RAPAT FGD I VISIONING AWAL/ INITIAL IDEAS PENATAAN KAWASAN DAN BANGUNAN DI KOTA TANJUNGBALAI
TANJUNGBALAI — Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Tanjungbalai menggelar Rapat Focus Group Discussion (FGD) I Visioning Awal/Initial Ideas Penataan Kawasan dan Bangunan di Kota Tanjungbalai. Kegiatan strategis ini dilangsungkan di Ruang Rapat Bapperida Kota Tanjungbalai pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Rapat penting ini dipimpin langsung oleh Kepala Bapperida Kota Tanjungbalai, Mariani, S.Si, M.Si., serta dihadiri oleh Tim Dosen dan Mahasiswa Fakultas Arsitektur Universitas Sumatera Utara (USU) beserta perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) stakeholder terkait.
Acara diawali dengan kata sambutan dari Dosen Fakultas Arsitektur USU, Dr. Wahyuni Zahrah, ST, Ms, IAI. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa mahasiswa USU siap mendampingi dan membantu rencana pengembangan tata kota Tanjungbalai.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari survei lapangan yang telah dilakukan bersama antara Tim USU, Bapperida, dan OPD terkait pada 10 September 2026 lalu ke sejumlah titik di Tanjungbalai.
Rapat kemudian dibuka secara resmi oleh Asisten Administrasi Umum, Hamdani, SE. Dalam sambutannya, beliau menyambut hangat rombongan dosen dan mahasiswa Fakultas Arsitektur USU.
“Pemerintah Kota Tanjungbalai sangat berharap kerja sama ini dapat membantu perencanaan penataan kawasan dan pengembangan pembangunan Kota Tanjungbalai ke depan,” ujar Hamdani, sekaligus meminta rumusan serta masukan konstruktif dari Tim USU dan para OPD yang hadir.
Paparan Konsep Pengembangan oleh Tim USU
Paparan utama disampaikan oleh Dosen Fakultas Arsitektur USU, Ar. Selly Veronika, ST, MT., beserta perwakilan mahasiswa. Mereka memaparkan sejumlah poin krusial dalam perencanaan kawasan, antara lain:
- Pengembangan Pariwisata: Mengkaji peluang Pulau Buaya sebagai destinasi wisata berbasis potensi lokal, mencakup wisata perairan, wisata budaya, kuliner khas daerah, serta rekreasi yang selaras dengan karakteristik kawasan.
- Pengembangan Ekonomi Masyarakat: Mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan ekonomi produktif melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pengolahan hasil perikanan, kuliner lokal, kerajinan tangan, serta jasa pendukung pariwisata.
- Penataan Kawasan dan Infrastruktur: Mengidentifikasi kebutuhan infrastruktur dasar seperti akses transportasi, dermaga, sanitasi, pengelolaan sampah, penyediaan air bersih, ruang publik, serta fasilitas keselamatan pengunjung.
- Pelestarian Lingkungan: Memastikan pengembangan kawasan tetap memerhatikan daya dukung lingkungan, perlindungan ekosistem perairan, pengendalian pencemaran, serta pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.
- Perencanaan Terpadu: Integrasi menyeluruh antara aspek tata ruang, infrastruktur, pariwisata, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan lingkungan dengan melibatkan perangkat daerah serta pemangku kepentingan.
Tanggapan dan Masukan Stakeholder
Paparan dari Tim USU mendapat sambutan dan tanggapan konstruktif dari berbagai instansi yang hadir:
- Armansyah Putra (KSOP): Menyoroti aspek operasional, di mana secara global ia menilai bahwa tempat pengolahan ikan dan kawasan wisata harus dipisahkan agar aktivitas bongkar muat ikan tidak mengganggu kenyamanan dan keselamatan area wisata.
- Betris (Dinas Pariwisata): Menyambut baik gagasan menjadikan Pulau Buaya sebagai destinasi wisata mangrove yang menarik untuk menunjang kemajuan kota. Ia juga mengusulkan pembuatan landmark bertema sejarah “Si Mardan”, peningkatan akses jalan, serta penguatan sarana pendukung ekonomi kreatif.
- Rosyidah, SH (Kecamatan Teluk Nibung): Mengusulkan agar rencana kawasan wisata ini dilengkapi dengan konsep pengelolaan sampah terpadu yang mampu mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomis.
- Tazul Abrar, ST, MM (Asisten Ekonomi dan Pembangunan): Mengonfirmasi bahwa Pulau Buaya telah masuk dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tanjungbalai. Beliau meminta agar disiapkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 30% dari total luas kawasan di Pulau Buaya, serta meminta agar vegetasi alami ditonjolkan guna menjaga kelestarian hutan mangrove.
Melalui FGD ini, diharapkan terbangun sinergi yang solid antara akademisi dan pemerintah daerah dalam merumuskan arah penataan kawasan yang berkelanjutan di Kota Tanjungbalai.






