Artikel – Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah Kota Tanjungbalai https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id Thu, 25 Sep 2025 09:30:38 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/wp-content/uploads/2025/03/cropped-LOGO-PEMKO-1-32x32.png Artikel – Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah Kota Tanjungbalai https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id 32 32 Pelaksanaan Kegiatan Forum Grup Discussion (FGD) dan Penandatanganan Berita Acara Kesepakatan PUD Kota Tanjungbalai https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/2025/09/25/pelaksanaan-kegiatan-forum-grup-discussion-fgd-dan-penandatanganan-berita-acara-kesepakatan-pud-kota-tanjungbalai/ Thu, 25 Sep 2025 09:17:49 +0000 https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/?p=2405

Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Derah ( BAPPERIDA ) Kota Tanjungbalai melaksanakan Kegiatan Forum Grup Discussion (FGD) dan Penandatanganan Berita Acara Kesepakatan Produk Unggulan Daerah ( PUD ) Kota Tanjungbalai.  yang bertujuan Membahas dan menyepakati mengenai Sektor/Sub Sektor Unggulan Daerah Kota Tanjungbalai dan melakukan penandatanganan Berita Acara hasil kesepakatan serta membahas permasalahan-permasalahan daerah di Kota Tanjungbalai, bertempat di Aula Sutrisno Hadi Pemko Tanjungbalai, Senin, (22/9),

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Tanjungbalai ( Nurmalini Marpaung, S.Sos, M.I.Kom ) dan diikuti oleh seluruh OPD se-Kota Tanjungbalai, Perguruan Tinggi, Pelaku Usaha, dan Organisasi Profesi yang ada di Kota Tanjungbalai dengan menghadirkan 3 ( tiga ) orang  Narasumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN ) yang hadir secara daring melalui  Zoom Meeting yaitu Bapak Dr. Muhammad Amin, selaku Plt. Direktur Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah , Ibu Damayanti Sarodja, S.P., M.Sc., Ph.D. sebagai Analis Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Ahli Muda dan Ibu Sri Ayu Suryani sebagai Analis Pemanfaatan IPTEK Ahli Madya.

Kepala Bapperida Kota Tanjungbalai Bapak Zul Abdiman, S.Kom, M.M. dalam paparannya menyampaikan Dasar Hukum pelaksanaan kegiatan. Beliau juga menjelaskan bahwa RPJMD Tahun 2025-2029 memasukkan Rencana Induk dan Peta Jalan Pemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Daerah (RIPJPID) sebagai salah satu dokumen yang dipedomani dalam penyusunan Rancangan RPJMD Kota Tahun 2025-2029. Untuk penyusunan dokumen RIPJPID tahun 2025-2029 sebagai tahapan awal telah dilakukan kajian sektor/sub-sektor unggulan kota tanjungbalai. Kajian sektor / sub-sektor unggulan Kota Tanjungbalai dilakukan dengan menggunakan data sekunder variabel pertumbuhan ekonomi, yaitu data PDRB Kota Tanjungbalai dan PDRB Provinsi Sumatera Utara. data PDRB yang digunakan dalam kajian ini adalah data atas dasar harga konstan 2010 untuk periode 2019-2023 yang dikeluarkan oleh BPS Kota Tanjungbalai dan BPS Provinsi Sumatera Utara.

Dalam sambutan dan arahannya,  Sekretaris Daerah Pemko Tanjungbalai Ibu Nurmalini Marpaung, S.Sos, M.I.Kom menyapaikan lebih lanjut gambaran produk-produk unggulan apa saja yang bisa menjadi unggulan di Kota Tanjungbalai untuk meningkatkan perekonomian Kota Tanjungbalai, dan kemudian membuka FGD secara resmi.

Paparan oleh Narasumber I Plt. Direktur Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah Bapak Dr. Muhammad Amin, beliau memaparkan Peran BRIN dalam melaksanakan tugas riset dan inovasi nasional dan membantu daerah dalam riset dan inovasi baik bantuan langsung maupun pendampingan di daerah. Beliau juga menyapaikan bahwa sejak tahun 2023 telah melakukan pendampingan teknis kepada Pemko Tanjungbalai dalam hal riset dan penyusunan dokumen perencanaan. Beliau juga menjelaskan tugas dan fungsi Brida/Bapperida menurut Undang-undang yang belaku di Indonesia tentang riset dan inovasi, dan memberikan penjelasan umum mengengai RIPJPID.

Selajutnya paparan oleh Narasumber II Ibu Damayanti Sarodja, S.P., M.Sc., Ph.D. sebagai Analis Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Ahli Muda, dalam paparannya yang berjudul Analisis Penentuan Produk Unggulan Daerah Kota Tanjung Balai memuat tentang Tugas dan Fungsi Brida/Bapperida sesuai dengan Pasal 67-68 Perpres No.78 Tahun 2021, Pasal 5 dan Pasal 6 huruf h Permendagri No.7 Tahun 2023, Dasar Hukum Penyusunan RIPJPID, Keterkaitan RPJMD Dengan Dokumen Perencanaan Pembangunan dan Sektoral Lainnya, Kerangka Pikir Penyusunan RIPJPID, Identifikasi Produk Unggulan Daerah, Kriteria Umum Produk Unggulan Daerah, Metode Penentuan PUD, yaitu metode kuantitatif dalam kajian ini dilakukan melalui pendekatan : Location Quotion (LQ), Shift Share (SS), dan Tipology Klassen (TK). Beliau menyapaikan bahwa Penentuan Produk Unggulan Daerah menggunakan LQ, SS dan TK sangat ditentukan oleh ketersediaan data sampai ke tingkat produk. Analisis ini hanya dapat dilakukan sampai ke tingkat sub-sektor karena ketersediaan data di Kota Tanjungbalai dan Provinsi Sumatera Utara, Hasil analisis yng dilakukan menunjukkan adanya beberapa sub-sektor unggulan maupun yang  berpotensi menjadi unggulan serta dapat dikembangkan dalam program prioritas pembangunan Kota Tanjungbalai untuk penguatan dan peningkatan perekonomian Kota Tanjungbalai 2025-2029 yaitu Subsektor Perikanan, Sektor Industri Pengolahan dan Subsektor Perdagangan Besar dan Eceran. Kesimpulan terkait PUD Kota Tanjungbalai disepakati melalui FGD yang diinisiasi oleh Bidang Riset dan Inovasi BAPPERIDA Kota Tanjungbalai. FGD melibatkan stakeholders terkait / unsur pentahelix dalam FGD ini

Pemapar terakhir,  Ibu Sri Ayu Suryani sebagai Analis Pemanfaatan IPTEK Ahli Madya, memaparkan Penentuan Prioritas Permasalahan Daerah Kota Tanjungbalai. Dalam paparannya di sampaikan Format penulisan RIPJPID Menurut Lampiran Peraturan BRIN Nomor 5 Tahun 2023, Langkah-Langkah dalam Penentuan Prioritas Permasalahan Daerah dengan Metode Pembobotan, List Permasalahan Daerah Kota Tanjungbalai (Ranperda RPJMD 2025-2030), dan Sistematika Rencana Induk dan Peta Jalan Pemajuan IPTEK di Daerah.

Beritra Acara dibacakan oleh bapak Zul Abdiman, S.Kom., M.M. tentang Hasil Kesepakatan FGD Sektor Unggulan Daerah yaitu :

(1) Subsektor  unggulan di Kota Tanjujngbalai adalah Subsektor Perikanan,

(2) Berita Acara digunakan sebagai bahan penyusunan RIPJPID Kota Tanjungbalai Tahun 2025-2029.

]]>
PENGOBATAN GOBUK DAN SENI TRADISI MELAYU PESISIR TANJUNGBALAI ASAHAN https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/2019/01/26/pengobatan-gobuk-dan-seni-tradisi-melayu-pesisir-tanjungbalai-asahan/ https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/2019/01/26/pengobatan-gobuk-dan-seni-tradisi-melayu-pesisir-tanjungbalai-asahan/#respond Sat, 26 Jan 2019 02:49:05 +0000 https://bappeda.tanjungbalaikota.go.id/?p=798


PENULIS: HADI HAMDANI, S.PD, M.Sn.
Dosen Musik Instrumen Cello,  Conductor Orchestra, Arranger Musik, Budayawan, Penulis Puisi

ABSTRAK
 
Tanjungbalai Asahan dengan keberagaman suku etnis yang mendiami kota berukuran kurang lebih 60,52 km2 syarat dengan ritual yang selalu berkaitan seni-seni dalam budaya setempat. Pelbagai macam ritual yang menggunakan senandung/nandong/didong di dalamnya terdapat doa-doa dan pujian terhadap Allah SWT dengan bermacam bentuk proses dan aktifitas untuk mendapatkan keberkahan dalam tujuan pokok dari masyarakat melayu pesisir di Kota Tanjungbalai Asahan. Penggunaan instrumen ritual dalam prosesnya juga tidak luput dengan konsep-konsep falsafah pada kajian semiotika, pragmatika, etika daerah setempat, dan Agama mayoritas yang di-anut masyarakatanya. Adalah hal-hal biasa bagi masyarakat Melayu pada umumnya menggunakan pongobatan dan ritual yang berkaitan dengan penyembahan pada ruh-ruh leluhur tanpa menghilangkan keyakinan ber-agama (Islam) sebagai pondasi menjadi masyarakat yang syarat atas keyakinan kepada Allah SWT sebagai pencipta alam semesta.Dalam tulisan ini, penulis memaparkan proses singkat ritual gobuk, penggunaan musik dan seni lainnya seperti tari, sastra, dan rupa yang terkandung dalam pengobatan gobuk dan gubang yang dipakai oleh masyarakat Melayu Tanjungbalai.

 

  1. Pendahuluan

Manusia modern hari ini mengalami urbanisasi pada era digital yang berdampak pada sikap, mental dan pengetahuan masyarakat yang hampir diberbagai tempat di seluruh dunia lebih mengutamakan kekinian dalam gaya hidup. Pelbagai dampak positif dan negatif juga terlihat dari efek-efek yang timbul. Faktanya, tidak sedikit masyarakat di dunia meninggalkan beberapa kebiasan yang terkait dalam budaya yang sudah disusun oleh para pendahulu pada masing-masing daerah yang melahirkan kebudayanya. Salah satunya adalah gaya busana yang selalu punya trend berubah-ubah pada masa ke masa atau juga makanan-makanan modern yang selalu punya gaya dan inofasi, hal ini dampak positif perkembangan manusia. Dampak negative yang ditimbulkan pun tidak sedikit, manusia modern merasa enggan untuk membuat atau mengulang kembali kegiatan atau hal-hal yang berkaitan dengan tradisi, karena pada pandangan egosentris yang timbul dari individual masyarakat modern dengan asumsi rasa sosial yang ketinggalan zaman, apabila terus melakukan kegiatan budaya para leluhur.

Masyarakat Indonesia pada umumnya mempunyai berbagai macam kegiatan seni yang berkaitan dengan ritual, atau juga kegiatan ritual yang didalamnya terdapat seni-seni seperti musik, tari, rupa dan sastra. Dari berbagai kebudayaan ini melahirkan bermacam-macam falsafah yang terkandung setiap daerahnya. Falsafah yang terkait pada norma-norma dan etika membuat masyarakatnya melahirkan pula sikap, mental dan waktak kepribadian atau juga ciri orisinalitas yang menunjukkan identitas satu tempat dari mana masyarakat itu berasal.

Dari berbagai etnisitas yang terdapat di nusantara, penulis  tertarik pada kebudayaan dan tradisi yang terdapat di kota Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara. Adanya ancaman urbanisasi pada tradisi-tradisi leluhur, membuat penulis merasa khawatir akan punahnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan ritual dan seni budaya yang terdapat di kota yang bernama panggilan si-kota kerang (kota korang). Kegiatan budaya dalam ranah seni seperti senandung (didong), gubang, gobuk, yang sudah mulai bergeser bahkan jarang dilakukan karena ada beberapahal yang menjadi faktor penghambat pelaksanaannya.

Terletak pada garis pantai Timur Sumatera, secara geografis Tanjungbalai Asahan mempunyai kebudayaan dan karakter masyarakat yang lahir dari kebudayan Melayu yang dibawa oleh orang-orang Malaya. Masyarakat Malaya membentuk masyarakat baru pada zaman peradaban di kota Tanjungbalai dimasa itu. Berkembang membentuk masyarakat, dan menerima perpindahan etnis lain seperti batak, bugis, minang dan lainnya, hal ini menjadikan masyrakat kota Tanjungbalai pada masa itu menjadi kota yang multikultural, bagi mayarakat yang sudah terbentuk keimanannya dalam memeluk agama Islam, juga mempengaruhi etnis lain untuk beragama dan memeluk Islam pada masa dahulu. Dari berbagai macam situasi ini mempengaruhi budaya yang ada pada masyarakatnya, hingga membentuk karakter penduduk setempat dan juga imigran yang memasuki kota ini. Dalam hal ini penulis akan manjabarkan pelbagai situasi yang mempengaruhi sistem kebudayaan dan keayakinan yang membentuk masyarakat yang syarat dengan tradisi pada masa lalu di Kota Tanjugnbalai.

Foto Pertemuan Antara sungai Asahan dan sungai Silau
(Sumber: Dokumentasi Penulis).

  1. Gambaran Umum Masyarakat Tanjungbalai
    • Letak geografis dan kondisi alam kota Tanjungbalai

Kota Tanjungbalai merupakan kota yang berada didataran rendah tepatnya pada posisi di tepi sungai Asahan yang merupakan sungai terpanjang di Sumatera Utara. Kota ini mempunyai beberapa catatan sejarah daerah seperti pernah menjadi kota yang berjumlah penduduk terpadat di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk lebih kurang 40.000 orang dengan kepadatan penduduk lebih kurang 20.000 jiwa per km² melalui sensus penduduk pada tahun 1986. Pada tahun 1987 kota Tanjungbalai diperluas menjadi 60,52 km² dari luas kota yang sebelumnya hanya memiliki 199 ha (2 km²). (sumber. google.com).

Kota ini terletak di wilayah Pantai Timur Sumatera Utara, kondisi wilayahnya relatif datar pada ketinggian 0–3 m di atas permukaan laut, sehingga udara di kota Tanjungbalai bersuhu diatas rata-rata 300 C sampai dengan 370 C, suhu udara yang relatif panas pada daerah pesisir pantai. Dari pandangan umum secara astronomis Kota Tanjungbalai terletak pada koordinat 2058’15” – 3001’32” LU dan 99o48’00” – 99o50’16” BT, merupakan daerah yang mempunyai garis pertemuan 2 (dua) sungai besar yaitu Sungai Silau dan Sungai Asahan yang bermuara ke-Selat Malaka. (sumber. Google.com). Akses ini yang mempermudah masyrakat kota Tanjungbalai berpergian ke negara-negara tetangga yang berdekatakan dengan kota Tanjungbalai. 

  • Dominasi dan Definisi Agama Islam di Tanjungbalai

            Secara garis besar penulis sudah menjabarkan tentang Islam di Tanjungbalai. Dengan banyaknya tokoh-tokoh Islam yang lahir dan membuat satu pergerakan organisai agama dan ukuah (jalinan) persaudaraan seumat menjadi terjalin dengan sangat kuat pada masyarakat Tanjungbalai.

Dalam bukunya, Maran (2007: 70) menjelaskan pengertian tentang agama.”Agama merupakan terjemahan dari kata Inggris religion yang berasal dari bahasa Latin religio, dalam bahasa Indonesia memiliki arti religi. ’Re’ artinya adalah kembali, sedangkan ’ligare’ artinya adalah mengikat. Jadi religare/religi maksudnya adalah kehidupan beragama itu mempunyai tata aturan serta kewajiban yang harus ditaati oleh pemeluknya. Tata aturan serta kewajiban tersebut diyakini sebagai sesuatu yang diinginkan oleh Tuhan”.

Foto Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Balai.
(Sumber: Google).

Islam di Tanjungbalai mempunyai sejarah yang sangat kuat, salah satu contoh konkrit sejarah Islam di Tanjungbalai adalah berdirinya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah, dan banyaknya ulama-ulama yang lahir di kota ini, sehingga sekitar pada masa tahun 1800-an kota ini sempat disebut juga dengan kota para santri. Hal yang mempengaruhi Islam yang begitu mendominasi pada masa kejayaan kesultanan melayu di Tanjungbalai adalah banyaknya masyarakat imigran yang berpindah agama menjadi pemeluk agama Islam.

Terlihat dari banyaknya tokoh-tokoh agama yang lahir dan berasal dari kota ini seperti salah satunya Syeikh Abdul Hamid, yang juga mengembangkan Islam kepada murid-muridnya sehingga murid-muridnya mendirikan organisasi yang berbasis pada aliran sunni dan mazhab Syafi’i. Organisasi yang didirikan oleh murid-murid Syeikh Abdul Hamid juga memiliki persamaan dengan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang didirikan oleh para ulama Minangkabau.

Pada masa itu, masyarakat Minang juga sudah banyak menduduki kawasan kota Tanjungbalai, dikarenakan adanya transmigrasi masyarakat dari kerajaan Pagaruyung. Mayoritas Masyarakat Minang yang berhijrah kekota ini memiliki keyakinan dalam memeluk agama yang kuat..

Melalui hasil wawancara penulis dengan bapak Abdul Khalil pada tanggal 17 Agustus 2016, perjalanan dari beberapa tokoh-tokoh Islam yang mengembangkan Islam di kota ini juga sempat membuat kota Tanjungbalai menjadi kota pelajar Islam terbaik pada masa kesultanan Sultan Muhammad Husinsyah (1813-1859). Banyaknya pelajar-pelajar dari luar kota Tanjungbalai berdatangan untuk belajar agama, kota Tanjungbalai sempat mendapati julukan kota pelajar Islam. Pengaruh ini menjadi bias pada masyarakat Tanjungbalai sampai pada masa 1990-an dengan banyaknya Qori dan Qori’ah yang masih bertahan.

Pengaruh agama yang sangat kuat pada masyarakat Tanjungbalai waktu masa kesultan dan pesatnya perkembangan agama Islam juga bergabung dengan sejalannya tradisi-tradisi yang sudah ada dan melekat pada sebagian besar masyarakat yang sudah menetap dan tinggal  dengan mempercayai, kepercayaan peninggalan leluhur. Agustoni dalam wawancara penulis pada tanggal 8 Juli 2016 menyebutkan bahwa pada masa dahulu agama yang dianut oleh masyarakat Islam di kota Tanjungbalai tidak mempermasalahkan berbagai ritual yang ada  di kota ini, masyarakatnya tetap merangkul kegiatan ritual peribadatan yang berkaitan dan sejalan dengan pemujaan leluhur. Masyarakat tersebut menggabungkan kedua unsur pengobatan, pelaksanaan upacara dan lain sebagainya dengan tujuan untuk medapatkan sesuatu kebaikan, kesembuhan dari penyakit, hingga menjadikan ruh-ruh para leluhur sebagai pusat pengantar energi yang negatif kepada orang lain (ilmu hitam).

Berbagai macam jenis ritual yang Seperti dalam ritual gubang, siar mambang, dan gobuk adalah ritual yang berhubungan dengan ruh para leluhur. Dalam budaya melayu, hal untuk mempercayai ruh-ruh nenek moyang yang telah tiada adalah hal biasa, hal ini dikarenakan ajaran yang sudah turun menurun yang diberikan secara foklor oleh masyarakatnya kepada setiap generasi ke generasi di Tanjungbalai. Bila kita melihat kebelakang tentang sejarah Nusantara agama Hindu dan Budha adalah agama yang menduduki terlebih dahulu dari pada Islam. Maka hal-hal yang berkaitan dengan mantra dan ritual yang berkaitan dengan ruang alam bawah sadar mempengaruhi peradaban masyarakat melayu.

  1. Ritual

Dari beberapa macam ritual yang ada di Tanjungbalai, seperti siar mambang, gubang, songgot, ketoguran, gobuk, upah-upah dan lainnya mempunyai peran yang khusus dalam kehidupan sosial masyarakat Tanjungbalai. Hari ini, dari beberapa ritual yang sudah dijelaskan di atas, diantaranya sudah tidak lagi dilaksanakan sebagai kegiatan sosial dan pengobatan, hal ini disebabkan karena adanya pemahaman agama yang semakin kafah ditengah-tengah masyarakatnya dan juga adanya rasa malu untuk melakukan hal-hal yang bersifat gaib dan pemujaan ruh-ruh leluhur yang dianggap ketinggalan zaman, kuno, pemuja gaib, dan lainnya. Pandangan ini akan penulis angkat dalam ranah perjalanan ritual gobuk di lingkungan masyarakat Tanjungbalai sebagai ilmu pengetahuan.

  • Gobuk

Ritual gobuk merupakan pengobatan untuk kesembuhan dari penyakit yang diderita atas keinginan ruh leluhur untuk mendiami tubuh pasien. Penyakit ini merupakan penyakit keturanan yang sering disebut dengan puako bagi masyarakat Tanjungbalai. Proses dalam pengobatannya menggunakan beberapa unsur-unsur yang berkaitan dengan kepercayaan antara iman kepada Tuhan dan kepercayaan terhadap ru-ruh leluhur. Proses pengobatannya, menggunakan tata cara yang harus matang dan dipersiapkan secara detail, agar hal-hal yang menjadi keinginan dari pasien dan datuk (dukun) yang sedang dirasuki arwah leluhur dapat diselesaikan dengan baik.

Perjalanan waktu ritualnya tidak dapat ditentukan, karena syarat dengan apa yang menjadi keharusan oleh pasien. Dalam ritualnya, unsur musik dan tari adalah pendorong utama agar ritual dapat berjalan, unsur-unsur seni inilah yang menjadi daya tarik pengobatan gobuk karena menggunakan beberapa instrumen musik yang mulai punah dari masyarakat Tanjungbalai. Sedangkan tari yang digunakan adalah tari gubang yang tidak mempunyai pola gerak tari seperti tari serampang dua belas, persembahan dan tari melayu lainnya, hal ini disebabkan oleh para pelaku yang sedang menjalani ritual mengalami kerasukan ruh-ruh yang dipercayai sebagai nenek moyang. Banyak hal yang dapat dibahas dari kegiatan ritual ini, baik dari ritual itu sendiri, dari seni musik, seni tari gubang, seni rupa, dan filosifi dari kegiatan ritual itu sendiri.

  • Perlengkapan upacara ritual gobuk

Dalam pelaksanaan satu kegiaatan tidak terlepas dari perlengkapan yang dibutuhkan, ada beberapa bahan yang harus dipenuhi oleh pasien ataupun datuk, perlengkapan tersebut terdiri dari bahan-bahan yang paling penting untuk ritual ini. Diantara peralatan gobuk yang harus disedikan antara lain tujuh buah Gobuk (tujuh buah periuk tanah), pucuk daun kelapa muda, bengkuang, limau pagar, limau purut, bunga Setaman dalam tujuh jenis (bunga kantil warna merah dan putih, bunga cempaka, bunga kenanga, bunga mawar warna merah, putih dan kuning), kemenyan, minyak duyung (minyak wangi), kain panjang, benang tiga warna (merah, kuning, hitam), mayang Pinang (bunga pohon pinang), dan lain sebagainya.

Perlengkapan pendukung dalam pelaksanaan ritual gobuk antara lain adalah mangkuk putih untuk tempat penampungan limau yang dipotong pada saat pengobatan, pisau untuk memotong berbagai keperluan pada saat ritual berlangsung, penggunaan pisau biasanya untuk memotong limau, setepak sirih, lancang kuning, dan telur ayam kampung. (wawancara dengan bapak Ichwan, 6 juli 2016). Seluruh perlengkapan tersebut dipergunakan dalam rangkaian panjang ritual pengobatan gobuk untuk mengobati pasien yang menderita sakit puako.

  1. Seni tradisional daerah Tanjungbalai Asahan

Sebagai kota yang terletak di daerah pesisir yang memiliki masyarakat multi kultural dan memiliki sistem dasar kebudayaan Melayu, masyarakatnya menggabungkan agama, ritual dan seni dalam pengobatan tradisional gobuk. Seni yang terdapat dalam ritual ini adalah seni musik tradisional melayu dan tari tradisional melayu pesisir.

  • Seni musik tradisional Tanjungbalai

Seni musik melayu di daerah ini mempergunakan dan menggabungkan beberapa instrumen tradisional. Dari beberapa instrumen untuk memainkan musik tradisional melayu Tanjungbalai, salah satunya mempergunakan alat musik bangsi (alat musik tiup yang berukuran kira-kira 15-20 cm yang terbuat dari bambu) alat musik ini adalah alat musik yang dibawa oleh masyarakat Minang Kabau yang hijrah ke kota Tanjungbalai dan dihegemoni masyarakatnya. Pada masyarakat Minang Kabau, instrumen ini dikenal dengan sebutan bansi.

Foto dua instrumen bangsi
(arsip foto: Hadi Hamdani)

Instrumen tiup yang terbuat dari bambu ini disesuaikan dengan sistem penggunaan nada yang diadobsi oleh masyarakat Tanjungbalai, tangga nada yang dipakai adalah penggabungan tangga nada bayati yang tidak tuntas dan diselesaikan dengan ciri nada yang dipakai oleh masyarakat setempat, dan nada pentatonis dari Minang Kabau sendiri. (bayati adalah sistem tangga nada Arab dan sekitarnya di pergunakan untuk membaca Al-Qur’an, Adzan dan gaya bermusik tradisional Timur Tengah).

Selain bangsi beberapa instrumen lainnya seperti gendang melayu juga dipergunakan  dengan teknik yang tradisional oleh musisi yang memainkan intrumen ini, biola, tawak-tawak juga turut untuk mengambil peran untuk mengisi ritmis musik yang dimainkan oleh musisinya. (instrumen gong yang berukuran sedang), akordion, dan didong atau juga senandong.

Foto gendang, tawak-tawak (gong), bangsi, dan gobuk.
(arsip foto: Hadi hamdani)

Dalam proses memainkan musik untuk mengiringi ritual ini, ada yang berperan sebagai pendidong atau sering disebut sebagai penyenandung atau juga sendandung. Senandong yang dipergunakan dalam proses ritual ini adalah senandong puji-pujian terhadap Allah SWT, permintaan kepada ruh leluhur dan alam semesta.

Bismillahhirromanirrohim
Batang paun batang cendana
Batang kayu dengan daeknya
Datang tuan datanglah nyawa
Datang dengan budibaiknya
Hendak diruag tidak teruang
Sedah menjadi sibuluh gading
Hendak dibuang tidak terbuang
Sudah menjadi sidarah daging
dan berkat La Ilahaillah…

Di atas ini adalah salah satu pujian yang dipergunakan dalam permintaan dan doa pada proses ritual. Dalam pujian tersebut terdapat kalimat-kalimat yang biasanya dipergunakan dalam gaya dialog pantun pada masyarakat Melayu.

  • Seni Tari tradisional Tanjungbalai

Dari berbagai seni tari tradisional Melayu yang ada di wilayah Tanjungbalai Asahan, seperti serampang dua belas, mak inang pulau kampai, persembahan, ternyata tarian ini adalah tarian melayu yang berhegemoni dari wilayah Serdang Bedagai ke Tanjungbalai. Tarian yang merupakan asli dari masyarakat Tanjungbalai itu sendiri, tarian ini adalah tarian yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Asahan pada masa dulu. Gerakannya bersifat tariannya mengayun-ayunkan tangan yang bergerak seperti gerakan ombak. Penulis skeptis dengan tarian ini bahwa gerakan-gerakan yang lahir dari tari gubang tersebut adalah pengaruh dari wilayah masyarakat Tanjungbalai yang berdapingan dengan pesisir laut, yang kesehariannya adalah bernelayan dan menggunakan sungai sebagai salah satu jalur hinterland dan trasportasi.

Pada tarian gubang yang digunakan dalam ritual gobuk, tidak menggunakan pola yang terstruktur seperti tari melayu yang lain, sifat tarian yang ada pada ritual ini adalah tarian yang bergerak membentuk pola asal yang dikarenakan pelaku tarinya sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri karena raga dari pasien dan datuk yang mengobati sedang di masuki ruh-ruh leluhur. Dari hasil wawancara penulis dengan salah satu pemusik yang memainkan bangsi yang bernama bapak Ucok mengatakan bahwa hamper semua yang memainkan musik yang mengiringi tarian dalam ritual ini juga dalam keadaan diantara sadar dan tidak sadar sehingga tidak merasakan kelelahan pada saat memainkan musik iringan tarian gubang tersebut.■

Daftar pustaka

Barthes Roland. 1990. “Imaji Musik Teks”. London. Fortana Press.
Dharsono. 2007. “Estetika”. Bandung: Rekayasa Sains.
Djelantik, A.A.M. 1999. “Estetika Sebuah Pengantar”. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Hoed, H. Benny. 2014. “Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya”. Depok: Komunitas Bambu.
Smiers, Joost. 2009. “Arts Under Pressure”. Yogyakarta. INSISTPress.
Kontjaraningrat. 1987. “Sejarah Teori Antropogi”. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Kontjaraningrat. 2009. “Pengantar Ilmu Antropologi”. Jakarta: Perbit PT. Rineka Cipta.
Malm, William P. 1977. “Kebudayaan Musik Pasifik, Timur Tengah, dan Asia”. Universitas Sumatera Utara Press.
Pateda, Prof. DR. Mansoer. 2010. “Semantik Leksikal”. Jakarta: penerbit PT. Rineka Cipta.
Raga Maran, Rafael. 2007. “Manusia Dan Kebudayaan Dalam Persfektif Ilmu Budaya Dasar”. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Rouget, Gilbert. 1980. “Music And Trance”.  London: The University Of Chicago Press

DAFTAR INFORMAN

  1. Nama : Agus Toni, S.Pd.

Usia           : 60 tahun
Alamat      : Tanjung Balai
Pekerjaan  : Guru seni budaya/ Budayawan kota Tanjung Balai

  1. Nama : Ucok

Usia            : 64 tahun
Alamat       : Tanjung Balai
Perkerjaan : Seniman Melayu kota Tanjung Balai

  1. Nama : Zainal

Usia           : 81 tahun
Alamat      : Tanjung Balai
Pekerjaan : Paranormal

  1. Nama : Hasnuddin

Usia           : 78 tahun
Alamat      : Tanjung Balai
Pekerjaan  : Seniman

]]>
https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/2019/01/26/pengobatan-gobuk-dan-seni-tradisi-melayu-pesisir-tanjungbalai-asahan/feed/ 0
MENYINGKAP FAKTA DIBALIK MENGGENDONG BAYI https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/2018/05/24/menyingkap-fakta-dibalik-menggendong-bayi/ https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/2018/05/24/menyingkap-fakta-dibalik-menggendong-bayi/#respond Thu, 24 May 2018 03:34:54 +0000 http://bappeda.tanjungbalaikota.go.id/?p=623 Oleh : FARADIBA SARI HARAHAP, S.Pd., M.Hum.
(Dosen Politeknik Tanjungbalai dan Penggagas Komunitas Penggendong Tanjungbalai)

 

Menggendong bayi kini tengah menjadi tren dunia. Di kalangan selebriti saja,  artis kaliber internasional seperti Beyonce, Natalie Portman, Kourtney Kardhasian, Julia Roberts, Sarah Jessica Parker, Heidi Klum, Alanis Morrissette dan lainnya tak lepas dar  jepretan kamera para paparazi saat beraktivitas  ke luar rumah sambil menggendong bayinya. Para artis pria seperti Channing Tatum, Orlando Bloom, Jamie Fallon hingga Brad Pitt seolah juga tak mau ketinggalan. Ayah – ayah terkenal tersebut tak luput dari media kala terlihat tak canggung menggendong bayi mereka di hadapan publik.

Di Indonesia, penyanyi Andien juga banyak memposting kegiatannya menggendong bayinya yang bernama Anakku Askara sejak berusia empat bulan menggunakan kain tenun lokal. Ada juga deretan artis tanah air lainnya seperti Dian Sastrowardoyo, Nycta Gina, Alice Norin, Sarwendah, Dahlia Poland, Uut Permata Sari, Ashanty, Tya Ariestya, Chua Kotak, Widi Mulia, Tiara Lestari,  Intan Nuraini dan lainnya yang turut meramaikan aktivitas dunia menggendong.

Sebelum menggendong bayi menjadi topik tren di kalangan selebriti, pada tahun 2010 lalu seorang politikus asal Italia, Licia Ronzulli, yang juga merupakan anggota parlemen Eropa pernah lebih dulu menjadi sorotan dunia. Tak lama usai melahirkan, ia mengejutkan semua orang karena datang dengan gendongan bayi ke tempatnya bekerja, parlemen Eropa. Sejak pertama kali Rozulli membawa Vittoria diusianya 44 hari, Vittoria tak pernah lepas dari gendongan Ronzulli. Kini, semakin bertambah besar usianya, Vittoria mulai asik dengan laptop atau alat kerja lain miliki Rozulli.

Tak hanya Licia Ronzulli, aksi serupa juga pernah dilakukan oleh para politikus wanita luar negeri lainnya seperti Sana Hassaina dan Michelle Dockril (Kanada),  Annaliese Dodds (Inggris), Larissa Waters (Australia), Carolina Bescana dan Soraya de Santamaria (Spanyol), Victoria Donda (Argentina) serta Axelle Lemaire (Perancis).

Hingga kini sebenarnya banyak fakta menarik seputar menggendong anak yang belum diketahui oleh kebanyakan masyarakat. Alasannya mungkin saja karena aktivitas menggendong anak ini dianggap hanya sesuatu yang biasa saja dilakukan oleh ibu-ibu pada umumnya di berbagai penjuru tempat. Padahal jika lebih diperhatikan, ada banyak hal bermanfaat yang layak diketahui dalam dunia gendong ini. Mulai dari sejarah budaya menggendong dan gendongan, mitos dalam hal menggendong, cara menggendong bayi yang benar, manfaat menggendong, menggendong yang aman dan nyaman, cara memilih gendongan yang tepat  hingga eksistensi komunitas penggendong yang aktif mensosialisasikan ilmu menggendong dan gendongan yang tepat.

 

Sejarah Budaya Menggendong dan Gendongan

Budaya menggendong anak bukanlah suatu hal yang baru dilakukan manusia. Kegiatan ini bahkan sudah dilakukan sejak berabad-abad yang lalu. Dahulu, para orang tua harus senantiasa membawa bayi mereka, ke mana pun mereka pergi demi melindungi bayinya dari segala mara bahaya, seperti kondisi alam dan cuaca, serta binatang buas. Namun, membawa serta bayi sambil melakukan berbagai aktivitas hanya dengan menggunakan tangan atau bagian tubuh yang lainnya tentunya sangat melelahkan dan mengakibatkan pekerjaan malah terkendala. Apalagi pada masa itu kehidupan manusia masih nomaden (berpindah-pindah tempat). Pada akhirnya manusia menciptakan alat penggendong bayi sederhana.

Alat penggendong bayi sederhana sebenarnya adalah salah satu penemuan yang sangat bermanfaat dalam perkembangan  spesies manusia. Blaffer-Hyrdy (2000) dalam tulisannya Mother Nature – Maternal Instincts and the Shaping of The Species mengemukakan bahwa sejak puluhan ribu tahun yang lalu, “revolusi teknologi” ini telah membantu para ibu mengangkat bahan makanan sambil membawa bayi-bayi mereka.

Pada  mulanya, manusia purba menciptakan alat penggendong bayi dari bahan-bahan yang ada di alam, seperti kulit atau serat  kayu, dedaunan dan kulit binatang. Awalnya, bentuk gendongan kala itu baru sebatas gendongan sangat sederhana yang dililitkan ke salah satu bahu  penggendong. Saat itu, peran gendongan cukup membantu para orang tua menggendong anak sambil bekerja atau ketika mencari makanan.

Setelah penemuan berupa alat tenun mulai digunakan untuk membuat pakaian, kain sederhana untuk menggendong juga turut diciptakan. Kain gendong tersebut diikatkan ke tubuh penggendong dewasa atau anak yang lebih tua (kakak). Sejak dulu anak yang lebih tua dalam keluarga juga sudah dibiasakan menggendong adik-adiknya saat orang tua mereka pergi bekerja.

Desain berbagai gendongan tersebut ada juga yang dihiasi ornamen.beragam. Di Asia, umumnya gendongan  diberi sulaman yang tebal. Ada juga yang terbuat dari bahan sutra baju kimono atau selempang kimono seperti di Jepang.

Masyarakat di Afrika menggunakan kanga atau kitinge, yaitu jenis kain yang mirip seperti kain sarung namun umumnya lebih tebal,   baik untuk membuat pakaian, tutup kepala, selimut maupun gendongan. Di Meksiko,  rebozo merupakan kain persegi panjang ini dapat berbahan katun, sutra, wol atau bahkan articela umumnya digunakan sebagai kain gendongan. Di India, para wanita melilitkan anaknya ke bagian kain sari mereka dan di Borneo, masyarakatnya malah menggunakan keranjang rotan lalu memasukkan anak ke dalamnya untuk digendong. Sementara orang Inggris terbiasa  menggunakan selimut saja, itupun hingga tahun 1950an karena kereta dorongan bayi (strollers) mulai dikenal lalu diproduksi secara besar-besaran.

Dahulu, mode gendongan bervariasi tergantung iklim di tiap daerah. Di tempat yang beriklim panas, bayi cenderung lebih sering lapar atau haus dan para orang tua memanfaatkan gendongan untuk menggendong bayi sambil memberinya makanan atau minuman. Kebalikan di daerah dingin, bayi hanya makan dan minum secukupnya saja. Bayi biasa ditempatkan di dalam gendongan yang digantung di dahan pohon atau dalam kereta luncur. Para penduduk asli Amerika yang tinggal di  tempat-tempat dingin menggunakan jaket dengan kantung gendongan yang praktis dan cukup hangat bagi bayi.

Pada akhir tahun 1960an, seorang wanita asal Amerika menciptakan gendongan modern diberi nama Snugli setelah melihat para wanita menggendong anak-anak mereka di belakang saat ia bertugas sebagai tenaga sukarela di Togo, Afrika Barat. Tahun 1970an, Jerman adalah negara yang pertama kali membuat perusahaan kain tenun buatan mesin, D-Didymos, setelah pemiliknya diberikan sehelai kain rebozo asal Meksiko oleh seseorang.

Pada awal tahun 1980an, kain gendong panjang dengan ring (ring sling) pertama kali ditemukan oleh seorang lelaki yang berasal dari Hawai. Lelaki tersebut mendesain sebuah kain panjang dengan menyelipkan ring pada kain untuk membantu istrinya menggendong anak mereka. Kemudian ia  menjual idenya itu kepada Dr. William Sears yaitu seorang penemu ilmu pengasuhan anak dengan pola penguatan ikatan batin. Sementara istrinya Mary adalah penemu istilah ‘babywearing’ untuk menyebutkan kata lain dari menggendong. Istilah ‘babywearing’ tercetus setelah Mary menyadari bahwa waktu yang ia habiskan seharian memakai gendongan tersebut persis selama waktu ia mengenakan pakaian hariannya, yaitu mulai pagi hingga menjelang malam tiba.

Sejak tahun 1980an, perkembangan jenis gendongan kain panjang dan gendongan instan tumbuh dengan pesat sejalan dengan lajunya jumlah perusahaan-perusahaan yang memproduksi berbagai macam tipe gendongan mulai dari usaha kecil hingga skala besar. Namun di sisi lain, pilihan jenis gendongan yang otomatis kini semakin beragam malah sering membuat orang merasa bingung bahkan melakukan kesalahan dalam memilih gendongan tepat bagi keselamatan dan kenyamanan anak dan juga  penggendong.

 

Mitos dan Fakta Menggendong Bayi

Telah dipaparkan sebelumnya bahwa kegiatan menggendong bayi sudah menjadi kebiasaan turun temurun dari nenek moyang kita dalam keseharian di berbagai bangsa. Namun ternyata, masih banyak yang belum memahami bagaimana cara menggendong yang aman dan nyaman dan lebih percaya pada mitos dibandingkan hasil penelitian ilmiah para ahli. Ada dua mitos yang paling sering ditemui saat menggendong bayi. Kedua mitos inilah yang sering membuat orang tua menjadi ragu saat akan menggendong bayinya. Berikut mitos dan penjelasan ilmiah untuk menjawab mitos tersebut.

  1. Mitos : Kaki bayi harus diluruskan dan tidak boleh dibiarkan mengangkang karena nanti anak jalannya jadi mengangkang, atau kakinya nanti akan tumbuh berbentuk O.

Fakta:  Terlebih dahulu mari kita telaah bagaimana pertumbuhan tulang belakang dan kaki bayi sejak lahir berikut.

Perkembangan bentuk tulang belakang bayi 0 bulan – 1 tahun

Sumber: hipdysplasia.org

Posisi natural kaki bayi seperti kaki katak (frog-like position)

Sumber: www.winfssi.com

Sejak tumbuh di dalam rahim ibu, bentuk tulang belakang bayi sudah melengkung  dan masih tetap melengkung saat ia dilahirkan. Saat dilahirkan, bentuk tulang belakang bayi masih melengkung (total kyphosis) yang apabila dilihat dari samping membentuk seperti huruf C (sering disebut C-shape) jika dilihat dari arah samping. Lalu seiring dengan pertumbuhannya, tulang belakang bayi akan berubah semakin tegak menuju ke bentuk tulang belakang yang sama dengan tulang belakang manusia dewasa (lumbar lordosis).

Selain perubahan tulang belakang, bentuk kaki bayi juga mengalami perubahan seiring pertumbuhannya. Kaki bayi baru lahir secara alami berada dalam posisi mengangkang seperti kaki kodok (frog-like position). Banyak masyarakat di Indonesia berusaha meluruskan kaki bayi sejak lahir seperti membedong bayi dengan memaksa kaki agar tetap lurus dengan anggapan agar pertumbuhan kaki bayi akan lurus dan baik saat dewasa. Jika kaki bayi baru lahir diluruskan secara paksa malah dapat beresiko sendi kaki bergeser dari soketnya dan bayi mengalami kelainan tulang (hip dysplasia). Hip dysplasia bawaan pada bayi baru lahir sering kali tidak terdeteksi dan meluruskan kaki bayi akan memperparah keadaan tersebut. Pada kenyataannya, seiring fase pertumbuhan bayi mulai dari merangkak, berdiri, berjalan dan berlari, maka bentuk kaki bayi pun akan lurus dengan sendirinya.

Sekalipun dokter menyatakan bahwa tidak banyak yang dapat orang tua lakukan saat terjadinya displasia pinggul bawaan, namun setidaknya orang tua bisa mencegah hal itu terjadi pada anak yang pinggulnya normal dengan cara menggendong atau membedong bayi dengan benar.

  1. Mitos: Bayi yang sering digendong akan menjadi ‘bau tangan’ dan manja

    Fakta : Bayi sangat suka digendong karena sesungguhnya bayi memang selalu ‘digendong’ sedari masih dalam kandungan ibunya. Sejak dalam kandungan, bayi senantiasa mendengar detak  jantung ibu, suara ibu yang khas, hangat tubuh ibunya serta ritme pergerakan tubuh ibu. Namun ketika bayi lahir ke dunia luar yang sangat asing baginya, bayi menjadi mudah menangis dan gelisah karena belum terbiasa.

Gendongan membantu bayi beradaptasi di dunia yang baru dan asing sejak ia dilahirkan. Saat digendong, bayi bisa merasa sangat dekat dengan suasana ketika masih dalam kandungan. Itulah alasan mengapa setelah bayi dilahirkan, tubuh ibu menjadi tempat yang paling nyaman dan gendongan adalah alat yang paling tepat digunakan sehingga bayi mudah terlelap saat digendong dan mudah terbangan saat dilepaskan dari gendongan.

Dalam dunia yang baru, luas, bising dan dingin membuat bayi sering gelisah dan menangis, namun kondisi saat berada dalam gendongan mengingatkan bayi selama mereka berada dalam kandungan. Mendengar degup jantung ibu, suara ibu yang khas, hangat tubuh ibunya serta ritme langkah dan pergerakan tubuh ibu adalah hal yang sangat dikenal bayi yang dengan cepat memberi mereka rasa aman dan tenang, itu sebabnya bayi mudah tertidur di dalam gendongan dan segera terbangun saat mereka diturunkan.

Sebuah penelitian berjudul  Increased Carrying Reduces Infant Crying:A Randomized Controlled Trial oleh Hunziker UA dan Barr.RG juga menemukan bahwa bayi yang digendong selama 3 jam sehari lebih sedikit menangis sebanyak 43%  dibandingkan bayi yang tidak digendong, terutama pada tiga bulan sejak kelahirannya

Menggendong anak tidak sama dengan memanjakan atau melindungi secara berlebihan. Pada usia 1-2 tahun, bonding (ikatan batin) merupakan kebutuhan utama bayi. Menggendong adalah salah satu cara untuk meningkatkan bonding ini. Menggendong anak, memeluknya dengan erat, sebenarnya adalah cara kita untuk mengatakan kepadanya bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan, karena apapun yang akan terjadi, perlindungan dan dukungan dari kita, orangtuanya, selalu ada untuknya. Jadi, mitos mengenai anak tidak boleh sering digendong agar anak tidak “bau tangan” adalah tidak benar.

 

MANFAAT MENGGENDONG

Ada banyak manfaat dari menggendong bayi. Esti Pramono, seorang Babywearing Consultant dari School of Babywearing UK, dalam blognya mengungkapkan bahwa bayi yang tenang dalam gendongan dapat  belajar banyak hal dan lebih mudah diajak berinteraksi, meningkatkan kemampuan mereka dalam membuat pilihan hidupnya, menciptakan keintiman serta interaksi yang kuat dan bayi secara konstan belajar menjadi manusia.

Bayi yang merasa aman dan nyaman dalam gendongan membuat ibu yang menyusui menjadi tenang dan percaya diri sehingga hidupnya menjadi lebih bahagia lalu kadar hormon oksitosin yang berperan besar dalam produksi ASI  juga membantu mengatasi depresi pasca melahirkan.

Esti juga memaparkan manfaat menggendong lainnya seperti membantu orang tua baru yang panik dalam menenangkan bayi yang menangis, membantu berbagai pekerjaan rumah tangga sehari-hari sekaligus menjaga dan memberi perhatian kepada si kecil,  mempermudah akses untuk bepergian kemana saja serta membantu membakar kalori penggendong.

Afifah Mu’minah  yang juga seorang Babywearing Consultant in Training menjelaskan manfaat menggendong melalui Kulwap (Kuliah Watsapp) bertema Babywearing Basic lalu dibagikan oleh pemilik akun facebook Evi Mashita Arifin yang telah mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, menggendong memiliki begitu banyak manfaat, baik bagi bayi maupun penggendong sebagai berikut.

Manfaat menggendong bagi bayi adalah:

  1. Mengurangi tangisan,
  2. Pengganti tummy time (waktu tengkurap),
  3. Membantu perkembangan ritme sirkandian (pola tidur dan bangun),
  4. Membantu perkembangan berbicara,
  5. Membantu reflux dan kolik,
  6. Membantu perkembangan indera penciuman,
  7. Membantu perkembangan vestibular (sistem kesembangan),
  8. Mempromosikan tidur nyenyak dan lama,
  9. Mempromosikan pemberian ASI,
  10. Mempromosikan pertumbuhan,
  11. Mempromosikan kontak kulit ke kulit,
  12. Reka ulang kondisi dalam rahim (trimester keempat),
  13. Menambah durasi menyusui,
  14. Memungkinkan penambahan waktu diam-waspada,
  15. Meningkatkan kekuatan inti otot,
  16. Memberikan keamanan,
  17. Menyediakan lingkungan yang aman untuk tidur,
  18. Mengatur suhu, pernapasan, dan denyut jantung,
  19. Mengurangi terhadap paparan toksin berbahaya.

 

Manfaat menggendong bagi penggendong:

  1. Bisa lepas tangan (hands free),
  2. Meringankan kegelisahan,
  3. Menambah oxytocyn (happy hormones),
  4. Membantu mempererat ikatan antara bayi dan penggendong,
  5. Membantu pemberian cinta secara penuh,
  6. Memperbolehkan bayi untuk merasa menjadi bagian dan terlibat,
  7. Membantu hubungan keluarga,
  8. Mempromosikan ikatan,
  9. Menjauhkan orang lain atau orang asing untuk menjangkau anak,
  10. Interaksi dengan berbagai macam orang.

 

Dengan memahami manfaat menggendong, kegiatan menggendong pun akan menjadi jauh lebih bermakna sehingga memotivasi orang tua untuk selalu meluangkan waktu menggendong anak-anaknya. Menggendong tak lagi diingat sebagai pekerjaan melelahkan melainkan menyenangkan.

 

CARA MENGGENDONG YANG AMAN DAN NYAMAN

Setelah mengetahui manfaat menggendong, perlu diketahui juga bagaimana cara menggendong yang tak hanya aman namun juga nyaman bagi anak dan juga penggendongnya. Agar dapat menggendong dengan aman dan nyaman, kita dapat mengacu pada pedoman penting dalam menggendong. School of Babywearing memberikan beberapa poin yang harus diingat ketika kita menggendong, yaitu ‘TICKS’.

  1. (T)ight

Ketat. Eratkan gendongan sehingga badan anak menempel di badan anda, anak serasa dipeluk. Kain yang longgar, membuat anak jadi mudah bergeser / susah bernafas.

  1. (I)n View at All Times

Posisi wajah anak harus selalu bisa terlihat agar penggendong dapat dengan mudah melihat tanda-tanda dari wajah anak (misal: mengantuk, resah, takut, dsb). Wajah anak tidak boleh sampai tertutup oleh kain gendongan, bisa menganggu pernafasan.

  1. (C)lose Enough to Kiss

Kepala anak terjangkau untuk dicium. Bagian atas kepala anak dekat dengan dagu penggendong.

  1. (K)eep Chin of The Chest

Posisi badan anak jangan terlalu melengkung / menunduk, apalagi sampai dagu anak menempel ke dada anak, karena bisa mengganggu pernafasan. Pastikan ada jeda 1-2 jari antara dagu dan dada anak.

  1. (S)upported Back

Dalam posisi gendong tegak, dada dan perut menempel di tubuh anda, dan punggung anak tersanggah dengan aman (sesuai umur anak).

 

Selain lima hal di atas, ada juga beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggendong bayi. Seperti, umur bayi, berat bayi, lahirnya cukup bulan atau tidak, yang menggendong siapa, dan acara yang seperti apa yang akan dihadiri ketika membawa  bayi yang digendong.

Di atas adalah gambar posisi gendong sesuai dengan umur anak. Posisi kaki anak terbuka mengangkang sesuai posisi alami bayi ketika di dalam kandungan (fetal frog position). Hal ini disebut M-shape, seperti ketika kita duduk, seluruh paha dan pantat tersanggah dengan baik (knee-to-knee).

   

Posisi M-shape dan C-shape

Sedangkan C-shape adalah posisi punggung bayi 0-4 bulan yang disarankan, mengikuti bentuk alami bayi dalam kandungan. Secara perlahan ketika bayi sudah bisa menopang kepalanya dengan kuat, posisi C-shape tidak diperlukan lagi. Perhatikan juga bahwa untuk menggendong 0-4 bulan, kain gendongan menutupi sampai telinga bayi (tidak menutupi seluruh kepala bayi).

MEMILIH GENDONGAN YANG TEPAT

Memilih gendongan untuk bayi tidak bisa sembarangan sebab jika salah bisa beresiko terhadap keamanan bayi. Siapapun kita pasti ingin gendongan yang terbaik untuk anak-anak kita. Dengan mengetahui perkembangan tulang belakang bayi, seharusnya membuat kita semakin mengerti jenis gendongan seperti apa yang dibutuhkan.

Esti Pramono menekankan bahwa gendongan ergonomis yang  mendukung perkembangan fisik seperti tulang punggung dan sendi pinggul (hip joint) anak adalah poin penting dalam memilih gendongan. Faktor Inilah kemudian menjadi salah satu unsur yang dimasukkan dalam gendongan ergonomis. Yaitu gendongan yang mendukung posisi natural bayi M-Shape,C-Shape pada bayi newborn.

Gendongan ergonomis ini umumnya dibagi dalam lima tipe:

  1. Wraps.Gendongan ini berupa kain panjang dengan berbagai macam ukuran dan bahan, umumnya dikenal dua jenis wrap: Stretchy Wrap (SW), yang terbuat dari bahan katun dan campuran spandex, kainnya bersifat elastis dan Woven Wrap (WW), kain tenun khusus dalam berbagai macam ukuran dan variasi jenis bahan seperti katun, linen, wool bahkan sutera. Jarik termasuk dalam jenis wrap berukuran pendek.
  2. Ring Sling.Ini adalah adaptasi modern dari jarik/selendang gendong dimana sepasang ring dijahit pada salah satu ujung kain sepanjang 2 meter dan ujung lainnya diselipkan melalui kedua ring agar dapat disesuaikan dengan tubuh penggendong. Gendongan ini cocok untuk menggendong bayi dan anak-anak saat mereka perlu naik-turun gendongan.
  3. Pouch Sling.Gendongan berupa kain yang dijahit melingkar dan digunakan pada salah satu pundak penggendongnya, mirip ring sling hanya saja tidak dapat diseusaikan besar-kecilnya ukuran.
  4. Meh Dai.Ini adalah adaptasi modern dari gendongan tradisional rakyat Tiongkok. Gendongan ini memiliki panel dari kain dengan dua kain pengikat yang diikatkan di pinggang dan dua kain pengikat lain yang diikatkan melewati pundak. Ada beberapa gendongan lain yang diadaptasi dari gendongan Asia seperti onbuhimo dari Jepang, podaegi dari Korea.
  5. Soft Structured Carrier (SSC). Pada umumnya gendongan ini dilengkapi ban pinggang yang berbusa tebal begitu juga pada tali di pundak yang nyaman, pas secara ergonomis dan dapat digunakan menggendong depan, belakang dan terkadang samping.

 

KOMUNITAS PENGGENDONG

Pentingnya informasi seputar menggendong untuk diketahui oleh masyarakat luas, para pegiat gendongan ergonomis di seluruh dunia mulai membentuk berbagai bentuk komunitas penggendong. Umumnya komunitas ini diisi oleh para orangtua dari berbagai  latar belakang. Dalam komunitas ini juga terdapat  para konsultan gendongan yang telah mengikuti pelatihan menggendong yang diakui di skala internasional.

Komunitas terbesar yang awalnya merupakan ‘induk’ dari komunitas penggendong di Indonesia bernama Indonesian Babywearers. Siapa saja boleh bergabung di dalam komunitas yang aktif berinteraksi dalam sosial media melalui akun grup facebook maupun instagram ini. Para penggendong yang menjadi sudah anggota komunitas ini dapat berbagi ilmu dan pengalaman seputar cara menggendong yang aman dan nyaman, berkonsultasi tentang sudah baik atau belumkah posisi menggendong yang dipraktikkan,  atau bisa juga saling review jenis gendongan yang digunakan. Selain itu komunitas ini juga menyediakan group khusus yaitu Indonesian Babywearers FSOT (For Sale or Trade) bagi anggota yang ingin melakukan jual beli, barter, atau sewa berbagai macam jenis gendongan yang hanya ergonomis dan original.

Selain Indonesian Babywearers, ada juga komunitas Nusantara Menggendong, Indonesian Babywearing Club dan Ayah Gendong Indonesia yang turut berperan dalam menginspirasi terbentuknya cikal bakal komunitas bersifat lokal yang terdapat di daerah-daerah Indonesia yang disebut sebagai komunitas lokal. Sudah banyak komunitas lokal dibentuk dan semakin hari semakin bertambah jumlahnya, seperti di Medan, Jabodetabek, Bali, Jogjakarta, Banyuwangi, Banyumas, Banjarmasin, Tegal, Kediri, Pekanbaru, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Bengkalan, Celebes, Balikpapan, Salatiga, Samarinda,Solo, Mataram, Riau, Klaten, Semarang, Cianjur, Sukabumi, Purwokerto, Batam, Karawang, dan lain sebagainya. Bahkan khusus di daerah Jogja dan sekitarnya ada kampanye berolahraga sambil menggendong bayi.

Para anggota di tiap komunitas lokal ini juga sering mengadakan pertemuan (kopi darat) yang umumnya digelar di lokasi yang disepakati oleh para anggota. Tidak hanya mendapat ilmu seputar menggendong, para anggota komunitas juga bisa mencoba gendongan para peserta lain maupun dari koleksi pustaka gendongan komunitas.

Saat ini, di kota Tanjungbalai juga sudah ada komunitas lokal para penggendong, yaitu Penggendong Tanjungbalai. Digagas oleh para ibu Tanjungbalai yang lebih dulu menjadi anggota Indonesian Babywearers, Penggendong Tanjungbalai bertujuan mensosialisasikan  cara dan teknik menggendong yang aman dan nyaman  serta mengenalkan berbagai jenis gendongan yang tepat bagi anak. Selain itu turut juga mempromosikan jalinan ikatan batin yang lebih kuat antara anak dan orang tua melalui kegiatan menggendong.

Komunitas Penggendong Tanjungbalai

Komunitas ini berhasil mendapat tanggapan positif dari masyarakat yang merasakan manfaatnya langsung. Para anggota komunitas juga kerap berinteraksi dalam sebuah group facebook bernama Penggendong Tanjungbalai dan group ini mempersilahkan siapa saja yang ingin turut bergabung. Kedepan, komunitas ini tak hanya  melakukan kegiatan sosialisasi hanya pada antar anggota saja melainkan juga kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan di kota Tanjungbalai sekitarnya.

SUMBER REFERENSI:

– http://www.gentleparenting.co.uk/kc/the-history-of babywearing/
– http://www.slingbabies.co.nz/Site/History_2.ashx
– https://www.motherandbaby.co.id/article/2016/10/48/6802/Mitos-Bau-Tangan-Benar-atau-Salah
– http://www.anggya.com/menggendong-anak-antara-mitos-dan-fakta/
– https://gendongangeek.com/2017/02/15/menggendong-memanjakan-anak/
– https://jeportemonbebe.com/en/positioning-baby-physiologyhttp://www.winfssi.com/appraisals.html
– https://www.researchgate.net/publication/19643720_Increased_carrying_reduces_infant_ crying_A_randomized_controlled_trial
– http://www.schoolofbabywearing.com/check-your-ticks/http://9olda.net/2017/06/05/proper-babywearing/
– http://hipdysplasia.org/

 

Diterbitkan Pada Buletin Perencanaan Pembangunan Bappeda Kota Tanungbalai
Volume 3, Bulan Desember 2017

]]>
https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/2018/05/24/menyingkap-fakta-dibalik-menggendong-bayi/feed/ 0
MENUJU CLEAN GOVERMENT DALAM NEGARA DEMOKRASI https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/2018/03/15/menuju-clean-goverment-dalam-negara-demokrasi/ https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/2018/03/15/menuju-clean-goverment-dalam-negara-demokrasi/#respond Thu, 15 Mar 2018 05:21:36 +0000 http://bappeda.tanjungbalaikota.go.id/?p=555

Bob Friandy, S.HI

Mahasiswa S2 Prodi Hukum Islam, UIN Sumut-Medan

  1. PENDAHULUAN

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Jean-Jacques Rousseau agar pemerintah ada eksistensinya, Pemerintah memerlukan jatidiri khusus, suatu wawasan para anggotanya, suatu kekuatan dari dirinya sendiri untuk dapat mempertahankan kelestariannya. Eksistensi yang khusus itu mensyaratkan pelbagai majelis, dewan, kekuasaan untuk berwusyawarah, untuk menetapkan penyelesaian masalah, hak, gelar. Apa yang diungkapkan oleh filosof Prancis tersebut menjad cikal bakal konsep negara modern.

Pemerintahan dapat dipahami melalui dua pengertian yaitu di satu pihak dalam arti “fungsi pemerintahan” (kegiatan memerintah), dilain pihak dalam arti “organisasi pemerintahan” (kumpulan dari kesatuan-kesatuan pemerintahan). Fungsi dari pemerintahan itu dapat ditentukan sedikit banyak dengan menempatkannya dalam hubungan dengan fungsi perundang-undangan dan peradilan. Pemerintahan dapat dirumuskan secara negatif sebagai segala macam kegiatan penguasa yang tidak dapat disebutkan sebagai suatu kegiatan perundang-undangan atau peradilan. Dalam arti organisasi pemerintahan dengan menganut trias politika dalam konsep negaran modern ini, adanya suatu pemisahan di antara kekuasaan pembuat undang-undang (Legislatif), kehakiman (Yudikatif) dan pihak pelaksana (Eksekutif). Keduanya dipandang sebagai konsep yang ideal dalam bernegara.

Sebagaimana juga dalam tujuan negara bahwa tegaknya negara hukum yang demokratis dan berkeadilan. Adanya pembangunan dalam Pemerintahan yang bersih yang ditujukan untuk mengakhiri tatanan sosial yang tidak adil dan menindas hak-hak asasi manusia sehingga Pemerintahan yang bersih berorientasi kepada cita-cita negara hukum yang didasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi dan berkeadilan sosial dalam satu masyarakat bangsa Indonesia yang bersatu sebagaimana tertuang di dalam pembukaan UUD 1945.

Pemerintahan yang bersih (Clean Goverment) merupakan pemerintahan yang prioritas pembangunan lebih mengarah pada peningkatan kinerja, agar pemerintah mampu menciptakan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan menekan tingkat penyalahgunaan kewenangan di lingkungan aparatur pemerintah. Pemerintahan yang bersih selalu berpedoman pada UU 1945 dan nilai-nilai Pancasila dan juga hukum. Dengan pengembangan sistem pemerintahan yang baik, kegiatan pemerintahan menjadi transparan dan akuntabel, karena pemerintahan mampu mengungkap feedback dan meningkatkan peran serta masyarakat. Dalam konteks hukum, pemerintahan yang baik merupakan suatu asas yang dikenal sebagai dasar-dasar umum pemerintahan yang baik yang merupakan jembatan antara norma hukum dengan norma etika.

Dengan mewujudkan pemerintahan yang bersih, maka ketimpangan-ketimpangan dalam roda pemerintahan dapat ditekan dan mencrminkan negara demokratis, yang berarti mencerminkan kepentingan rakyat melalui cara-cara jujur, adil, dan bebas (tanpa tekanan). Sebagai negara yang demokratis berpedoman pada aturan-aturan hukum. Oleh karena itu, pemerintahan yang bersih adalah kemestian dalam negara demokrasi.

  1. PEMBAHASAN
  1. Konsep Negara Demokrasi

Istilah demokrasi berasal dari Yunani kuno yang diutarakan di Athena pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan defenisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem demokrasi dibanyak negara. Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.

Demokrasi menempati posisi vital dalam kaitannya pembagian kekuasaan dalam suatu negara (umumnya berdasarkan konsep dan prinsip trias politika) dengan kekuasaan negara yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Prinsip semacam trias politika ini menjadi sangat penting untuk diperhitungkan ketika fakta-fakta sejarah mencatat kekuasaan pemerintah (eksekutif) yang begitu besar ternyata tidak mampu untuk membentuk masyarakat yang adil dan beradab, bahkan kekuasaan absolut pemerintah seringkali menimbulkan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.

Negara demokrasi identik dengan negara hukum, karena memperbincangkan perihal demokrasi terkait erat kepada penegakan hukum. Hukum tanpa demokrasi akan melahirkan otoriterisme dan demokrasi yang dijalankan tanpa hukum akan menumbuh suburkan anarkisme. Mempersoalkan demokrasi sebagai suatu sistem politik dalam negara hukum sesungguhnya tidak sekedar terfokus pada dimensi tujuannya saja. Namun, penting diperhatikan juga tentang cara berdemokrasi yang benar. Jika kita lihat sekarang masyarakat lebih cenderung mengaktualisasikannya dengan cara yang tidak terpuji, yang dengan alasan demokrasi. Semua aturan-aturan hukum bisa dilanggar dengan seenaknya.

Demokrasi tidak dapat dibicakan secara terpisah atau tanpa mengaitkannya dengan konsep negara hukum, karena negara hukum merupakan salah satu negara demokratis, dan demokratis merupakan salah satu cara yang paling aman untuk mempertahankan kontrol atas negara hukum (negara hukum yang demokratis). Gagasan dari negara hukum adalah bahwa hukum negara harus dijalankan dengan baik dalam arti sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat terhadap hukum dan adil karena maksud dasar dari hukum adalah keadilan. Secara substansial, makna demokrasi dari kaca mata hukum berkaitan dengan norma berupa cara memperoleh kekuasaan dan bagaimana melaksanakan kekuasaan.

Demokrasi mempunyai arti penting bagi masyarakat yang menggunakannya, sebab dengan demokrasi hak masyarakat untuk menentukan sendiri jalannya organisasi negara akan dijamin. Oleh sebab itu, hampir hampir semua pengertian yang diberikan untuk istilah demokrasi ini selalu memberikan posisi penting bagi rakyat kendati secara operasional implikasinya diberbagai negara tidak selalu sama. Sebagai suatu sistem politik, demokrasi dapat dilihat sekitar lima abad sebelum masehi. Saat itu orang Yunani membentuk polis (Negara kota) dengan menerapkan bagaimana suatu sistem politik harus diorganisasikan sehingga dapat memenuhi kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Proses demokratisasi atau perjuangan untuk menegakkan demokrasi dewasa ini telah ada dan sedang berlangsung di berbagai pelosok dunia. Jadi, hampir semua istilah demokrasi selalu memberikan arti penting bagi masyarakat.

Indonesia telah lahir dan hadir sebagai negara yang demokrasi, bahkan dikenal sebagai negara demokrasi ketiga di dunia. Dapat kita tinjau bagaimana udara kebebasan dapat dihirup oleh masyarakat Indonesia. Kebebasan pers, kebebasan berkumpul, berpendapat dan berekspresi di muka umum telah dijamin oleh undang-undang. Sejak bergulirnya era reformasi, perkembangan demokrasi di Indonesia terasa jauh lebih baik. Pemahaman mengenai demokrasi di Indonesia mungkin belum sepenuhnya dikuasai oleh masyarakat. Namun, pelaksanaan saat ini terjadi peningkatan yang signifikan dibandingkan pada saat awal bergulirnya reformasi yang lalu.

Pancasila merupakan paradigma (kerangka berpikir, sumber nilai, dan orientasi arah) dalam berdemokrasi, karena Pancasila dalam kedudukannya sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Pancasila sebagai dasar negara memang berkonotasi yuridis dalam arti melahirkan berbagai peraturan perundangan yang tersusun secara hierarkis dan bersumber darinya; sedangkan Pancasila sebagai ideologi dapat dikonotasikan sebagai program sosial politik tempat hukum menjadi salah satu alatnya dan karenanya juga harus bersumber darinya.

  1. Urgensi Pemerintahan yang Bersih

Pemerintah (Goverment) dalam bahasa Inggris diartikan sebagai “The authoritative direction and administration of the affairs of man/woman in a nation, state, city, etc.” (pengarahan dan administrasi yang berwenang atas kegiatan orang-orang dalam sebuah negara, negara bagian, kota dan sebagainya). Ditinjau dari sisi semantik, kebahasaan governance berarti tata kepemerintahan dan good governance bermakna tata kepemerintahan yang baik. Clean goverment adalah pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Dalam versi World Bank, Pemerintahan yang bersih (clean goverment) adalah penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien.

Pemerintahan dibentuk dengan maksud untuk membangun peradaban dan menjaga sistem ketertiban sosial sehingga masyarakat bisa menjalani kehidupan secara wajar dalam konteks kehidupan bernegara. Penyelenggaraan pemerintahan yang baik adalah landasan bagi penyusunan dan penerapan kebijakan negara yang demokratis dalam era globalisasi. Fenomena demokrasi ditandai dengan menguatnya kontrol masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan, sementara fenomena globalisasi ditandai dengan saling ketergantungan antara bangsa, terutama dalam pengelolaan sumber-sumber daya ekonomi dan aktivitas dunia usaha.

Pemerintahan yang bersih umumnya berlangsung di negara yang masyarakatnya menghormati hukum. Pemerintahan yang seperti ini juga disebut sebagai pemerintahan yang baik. Pemerintahan yang baik itu hanya bisa dibangun melalui pemerintahan yang bersih dengan aparatur birokrasinya yang terbebasan dari KKN. Dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang bersih, pemerintah harus memiliki moral dan proaktif serta check and balances. Tidak mungkin mengharapkan pemerintah sebagai suatu komponen dari proses politik memenuhi prinsip pemerintahan yang bersih apabila tidak memiliki moral. Proaktif serta check and balances.

Kepemerintahan yang baik adalah terciptanya suatu keadaan yang memberi rasa nyaman, menyenangkan bagi para pihak dalam suasana yang berkepemimpinan yang demokratis menuju masyarakat adil dan berkesejahteraan berdasarkan Pancasila. Para pihak yang dimaksud adalah pemerintahan yang baik dan bersih dalam hal ini eksekutif, parlemen yang baik (good parlemen) dan rakyat yang baik bisa pewarta, tokoh, cendekiawan, pengusaha, ketiga para pihak ini merupakan aktor yang sangat penting dalam mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih.

Kita saksikan betapa korupsi di Indonesia sudah menjadi fenomena yang sangat mencemaskan, karena telah semakin meluas bukan hanya pada lembaga eksekutif, melainkan sudah merambah ke lembaga legislatif dan yudikatif. Kondisi tersebut telah menjadi salah satu faktor penghambat utama pelaksanaan pembangunan di Indonesia. Ketidakberhasilan pemerintah memberantas korupsi memberantas secara tuntas juga semakin melemahkan citra pemerintah dimata masyarakat dalam pelaksanaan pemerintah yang tercermin dalam bentuk ketidakpercayaan masyarakat, ketidakpatuhan masyarakat terhadap hukum, dan bertambahnya jumlah angka kemiskinan absolut. Apabila tidak ada perbaikan yang berarti, maka kondisi tersebut pada akhirnya akan berpotensi membahayakan keutuhan bangsa dan negara.

Konseptualisasi pemerintahan yang bersih lebih menekankan pada terwujudnya demokrasi, karena itu penyelenggaraan negara yang demokratis menjadi syarat mutlak bagi terwujudnya clean goverment yang berdasarkan pada adanya tanggungjawab, transparansi, dan partisipasi masyarakat. Idealnya, ketiga hal itu akan ada pada diri setiap aktor institusional dimaksud dengan memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai moral yang menjiwai setiap langkah governance. Tata kepemerintahan yang baik dalam dokumen UNDP adalah penggunaan wewenang ekonomi, politik dan admistrasi guna mengelola urusan-urusan negara pada semua tingkat. Tata pemerintahan mencakup seluruh mekanisme, proses, dan lembaga-lembaga di mana warga dan kelompok-kelompok masyarakat mengutarakan kepentingannya, menggunakan hak hukum, memenuhi hak kewajiban dan menjembatani perbedaan-perbedaan di antara warga dan kelompok masyarakat.

Proses demokratisasi dalam menjalankan pemerintahan sering mengilhami para aktivis untuk mewujudkan pemerintahan yang memberi ruang partisipasi yang luas bagi aktor dan lembaga di luar pemerintah sehingga ada pembagian peran dan kekuasaan yang seimbang antara negara, masyarakat sipil, dan mekanisme pasar. Adanya pembagian peran yang seimbang dan saling melengkapi antar ketiga unsur tersebut bukan hanya memungkinkan adanya check and balances  tetapi juga menghasilkan sinergi yang baik dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. Dalam prakteknya ada perspektif yang berbeda dalam menjelaskan konsep clean goverment maka tidak mengherankan kalau kemudian terdapat banyak pemahaman yang berbeda-beda mengenai pemerintahan yang bersih (clean goverment) tersebut.

Wujud Clean goverment adalah penyelenggaraan pemerintahan negara yang solid dan bertanggungjawab, serta efesien dan efektif dengan menjaga kesinergisan interaksi yang positif diantara domain-domain negara, sektor swasta dan masyarakat. Clean goverment merupakan fondasi legitimasi dalam sistem demokrasi. Disamping institusi pemerintahan harus efisien dan efektif dalam melaksanakan fungsi-fungsinya, responsif terhadap kebutuhan masyarakat, memberikan fasilitas dan peluang ketimbang melakukan kontol serta melaksanakan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kunci untuk menciptakan clean goverment adalah suatu kepemimpinan nasional yang memiliki legitimasi dan dipercayai oleh masyarakat. Oleh karena itu Pemilihan Umum (PEMILU) yang langsung, jujur, dan adil dapat menjadi salah satu jawaban bagi terbentuknya pemerintahan yang bersih. Itupun kalau Pemilu tersebut mampu memilih seorang yang kredibel, yang mendapat dukungan popular, serta visioner dan kapabel.

Secara umum ada beberapa karakteristik dan nilai yang melekat dalam praktik pemerintahan yang bersih atau baik, yaitu: Pertama, praktik clean goverment harus memberi ruang kepada aktor lembaga non-pemerintah untuk berperan serta secara optimal dalam kegiatan pemerintahan sehingga memungkinkan adanya sinergi di antara aktor dan lembaga pemerintah dengan non-pemerintah seperti masyarakat sipil dan mekanisme pasar. Kedua, terkandung nilai-nilai yang membuat pemerintah dapat lebih efektif bekerja untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Nilai-nilai seperti efisiensi, keadilan, dan daya tanggap menjadi nilai yang penting. Ketiga, praktik pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktik KKN dan berorientasi pada kepentingan publik. Oleh karena itu, praktik pemerintahan dinilai baik dan bersih jika mampu mewujudkan transparansi, penegakan hukum, dan akuntabilitas publik.

Tantangan utama dalam mewujudkan clean goverment adalah bagaimana mewujudkan ketiga karakteristik tersebut dalam praktik pemerintahan sehari-hari. Tentu bukan pekerjaan yang mudah untuk mewujudkan ketiga hal itu dalam praktik pemerintahan sehari-hari di Indonesia. Pembagian peran antara pemerintahan dan lembaga non-pemerintah sering masih sangat timpang dan kurang proporsional sehingga sinergi belum optimal. Kemampuan pemerintah melaksanakan kegiatan secara efisien, berkeadilan, dan bersikap responsif terhadap kebutuhan masyarakat masih sangat terbatas. Praktik KKN masih terus menggurita dalam kehidupan semua lembaga pemerintahan baik yang berada di pusat ataupun di daerah.

Pemerintahan yang bersih (clean goverment) harus didukung dengan asas kesetaraan yakni kesamaan dalam perlakuan dan pelayanan. Asas ini harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh semua penyelenggara pemerintahan di Indonesia karena kenyataan sosiologis bangsa kita sebagai bangsa yang majemuk baik etnis, agama, dan budaya. Ada tiga pilar yang mendukung kemampuan suatu bangsa dalam melaksanakan pemerintahan yang bersih. Pertama, pemerintah (state). Kedua, masyarakat adab, madani, sipil (civil society), dan ketiga, pasar atau dunia usaha. Penyelenggaraan pemerintahan yang bersih atau baik serta bertanggungjawab baru tercapai bila dalam penerapan otoritas politik, ekonomi dan adminstrasi ketiga unsur tesebut memiliki jaringan dan interaksi yang setara dan sinerjik. Interaksi dan kemitraan seperti itu biasanya baru dapat berkembang subur bila ada kepercayaan (trust), transparansi, partisipasi, serta tata aturan yang jelas dan pasti. Pemerintahan yang bersih yang sehat juga akan berkembang sehat dibawah kepemimpinan yang berwibawa dan memiliki visi yang jelas.

Pemerintahan yang baik adalah sikap dimana kekuasaan dilakukan oleh masyarakat yang diatur oleh berbagai tingkatan pemerintah negara yang berkaitan dengan sumber-sumber sosial, budaya, politik, serta ekonomi. Dalam praktiknya, clean goverment adalah model pemerintahan yang efektif, efisien, jujur, transparan dan bertanggungjawab. Sejalan dengan prinsip diatas, pemerintahan yang bersih itu berarti baik dalam proses maupun hasil-hasilnya. Semua unsur dalam pemerintahan bisa bergerak secara sinergis, tidak saling berbenturan, dan memperoleh dukungan dari rakyat.

Strategi jitu perlu diambil oleh Pemerintah dalam mengembangkan praktik clean goverment. Luasnya cakupan persoalan yang dihadapi, kompleksitas dari setiap persoalan yang ada, serta keterbatasan sumber daya dan kapasitas pemerintah dan juga non-pemerintah untuk melakukan pembaharuan praktik governance mengharuskan pemerintah mengambil pilihan yang strategis dalam memulai pengembangan praktik pemerintahan yang baik dan bersih. Pembaharuan tersebut dilakukan secara bertahap sesuai dengan kapasitas pemerintah, masyarakat sipil, dan mekanisme pasar, sejauh perubahan tersebut secara konsisten mengarah pada perwujudan ketiga karakteristik praktik pemerintahan yang sebagaimana sudah dijelaskan.

  1. KESIMPULAN DAN SARAN
    1. Kesimpulan

Untuk mewujudkan sistem demokrasi yang baik maka perlu dituangkan di dalam kaidah hukum dalam suatu sistem pemerintahan. Demikian juga lembaga-lembaga negara yang ada. Karena, secara umum prinsip demokrasi itu mempunyai  peran yang sangat signifikan, seperti lembaga legislatif sebagai tempat wakil rakyat, lembaga eksekutif sebagai penyelenggara pemerintahan Negara, lembaga yudikatif sebagai tempat memberi putusan hukum dan keadilan dalam pelaksanaan undang-undang serta lembaga non-pemerintah sebagai alat kontrol masyarakat.

Negara demokrasi adalah negara hukum, patuh terhadap hukum, dan adanya penegakan hukum dengan tujuan berkeadilan. Mewujudkan clean goverment beorientasi kepada prinsip-prinsi demokrasi, itu dianggap sebagai landasan dalam menjalankan pemerintahan yang bersih. Adanya akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat. Clean goverment yang efektif menuntut adanya koordinasi dan integritas, profesionalisme serta etos kerja dan moral yang tinggi dari tiga pilar pemerintahan yaitu pemerintah, masyarakat madani, dan pihak swasta.

Karakteristik dan nilai yang melekat dalam praktik pemerintahan yang bersih atau baik, yaitu: Pertama, praktik clean goverment harus memberi ruang kepada aktor lembaga non-pemerintah untuk berperan serta secara optimal dalam kegiatan pemerintahan sehingga memungkinkan adanya sinergi di antara aktor dan lembaga pemerintah dengan non-pemerintah seperti masyarakat sipil dan mekanisme pasar. Kedua, terkandung nilai-nilai yang membuat pemerintah dapat lebih efektif bekerja untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Nilai-nilai seperti efisiensi, keadilan, dan daya tanggap menjadi nilai yang penting. Ketiga, praktik pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktik KKN dan berorientasi pada kepentingan publik. Oleh karena itu, praktik pemerintahan dinilai baik dan bersih jika mampu mewujudkan transparansi, penegakan hukum, dan akuntabilitas publik.

  1. Saran

Dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang bersih, prioritas pembangunan bidang penyelenggaraan negara perlu diarahkan pada upaya peningkatan kerja birokrasi agar birokrasi mampu menciptakan kondisi yang kondusif bagi terpenuhinya kebutuhan masyarakat, meningkatnya kualitas pelayanan kepada masyarakat, dan menekan tingkat penyalahgunaan kewenangan di lingkungan aparatur pemerintahan. Maka upaya yang dilakukan pemerintah adalah:

  1. Mengoptimalkan pengawasan internal, eksternal dan pengawasan masyarakat serta mempercepat tindak lanjut hasil-hasil pengawasan.
  2. Menyusun indikator pelaksanaan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik.
  3. Dilaksanakan survey mengenai pemahaman aparatur pemerintahan terhadap prinsip-prinsip Good Public Governance di berbagai instansi pemerintah pusat dan daerah.

DAFTAR PUSTAKA

 Magnis Suseni, F. 1986. Etika Politik. Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: Gramedia.
Adisusilo, Sutarjo. Sejarah Pemikiran Barat dari yang Klasik sampai yang Modern. Yogyakarta:Universitas Sanata Dharma.
Bappenas. 2004. Menumbuhkan Kesadaran Tata Kepemerintahan yang Baik. Jakarta: Sekretariat Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan yang baik.
Mahfud MD, Moh. Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi. Jakarta: Rajawali Pers.
Jacques Rousseau, Jean. Perihal Kontrak Sosial atau Prinsip Hukum Politik, Pen. Rahayu Surtiati Hidayat dan Ida Sundari Husen. Jakarta: Dian Rakyat.
Siregar, Muhammad Arifin. 2008. Penerapan Tata Kepemerintahan yang Baik dalam Penyelenggaraan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintahan Propinsi Bengkulu. Semarang: Tesis Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro.
Awaluddin. 2010. Konsepsi Negara Demokrasi yang Berdasarkan Hukum. ISSN 1411-3341.
 

Diterbitkan Pada Buletin Perencanaan Pembangunan Bappeda Kota Tanungbalai
Volume 3, Bulan Desember 2017

 

]]>
https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/2018/03/15/menuju-clean-goverment-dalam-negara-demokrasi/feed/ 0
TANJUNGBALAI DI KANCAH MASYARAKAT EKONOMI ASEAN https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/2018/03/15/tanjungbalai-di-kancah-masyarakat-ekonomi-asean/ https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/2018/03/15/tanjungbalai-di-kancah-masyarakat-ekonomi-asean/#respond Thu, 15 Mar 2018 04:43:49 +0000 http://bappeda.tanjungbalaikota.go.id/?p=548
Dr.BUKIT BUCHORI SIAGIAN,SE.,M.Si
BAPPEDA Kota Tanjungbalai

Kerjasama ekonomi Negara-negara ASEAN secara resmi telah mulai berlaku sejak 1 Januari 2016. Setiap negara yang masuk arena pasar bebas internasional/regional tentu yakin untuk mampu berkompetisi dengan negara lain karena punya modal daya saing ekonomi domestik yang kuat.

Dalam perspektif ekonomi regional, hakikat pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah persaingan antar bangsa-bangsa se kawasan di bidang ekonomi. Dengan segala kekurangannya, Indonesia sudah terlanjur mencebur ke perdaga- ngan bebas ketika kekuatan ekonomi domestik masih rapuh. Banyak survei lembaga internasional, seperti Bank Dunia, IMF, ADB, dan lain-lain menunjukkan daya saing dan iklim investasi tanah air yang rendah (bahkan dibandingkan dengan negara- negara ASEAN). Kondisi ini tentu saja ironis, karena mestinya seluruh sendi ekonomi domestik telah kokoh terlebih dulu saat masuk dalam arena perdagangan internasional. Dengan demikian sebagai bagian dari kesepa- katan kerjasama ekonomi ini, suka atau tidak Indonesia harus melakukan usaha-usaha yang lebih keras untuk mampu menjadi pemain utama dalam persaingan tersebut atau kalau tidak terlalu muluk untuk memenangkannya.

Dalam pada itu, hingga saat ini masih banyak persoalan yang berkaitan dengan struktur ekonomi di dalam negeri belum kunjung selesai. Berbagai persoalan tersebut terus saja menggerogoti kemampuan Indonesia sehingga selalu kesulitan dan terseok-seok dalam pentas persaingan ASEAN.

Sebagai modal penting persaingan perdagangan dengan negara-negara Asean, dari tahun 2012 hingga 2016 misalnya, neraca perdagangan Indonesia ke Asean selalu menunjukkan keadaan defisit (BPS, 2017).

Angka-angka ini secara tersirat menunjukkan modal kompetisi yang relatif kurang bagus dari Indonesia berhadapan dengan negara kawasan Asean. Sementara itu, pergerakan nilai tukar domestik terhadap dolar Amerika, sejak tahun 2011 hingga saat ini terus mengalami pergerakan melemah. Di sisi lain daya saing perekonomian Indonesia bergerak merangkak di saat Negara-negara pesaing berlari kencang. Beberapa indikasi awal tersebut memperlihatkan begitu nyatanya kerentanan perekonomian Indonesia terhadap berbagai tantangan baik bersifat internal maupun eksternal.

Berkaca pada pengalaman implementasi Asean China Free Trade Agreement (ACFTA) dan situasi perekonomian terakhir, mestinya Indonesia harus bekerja lebih keras dalam mengimbangi konsekuensi dari pemberlakuan Pasar Tunggal Asean yang tidak ringan. Dalam perjalanan pemberlakuan kebijakan ACFTA sebelumnya, Indonesia terus mengalami pembesaran defisit neraca perdagangan terhadap China sehingga menerbitkan kecemasan manfaat ACFTA tersebut bagi ekonomi nasional. Bahkan Pemerintah pernah mengumumkan defisit perdagangan Indonesia dengan China mencapai US$ 5,6 miliar.

Situasinya saat ini dengan keberadaan MEA hampir tidak jauh berbeda. Secara teoritis, Indonesia memang mempunyai peluang yang lebih baik dengan adanya kesepakatan ini dibanding negara-negara tetangga, tapi dengan melihat persoalan-persoalan ekonomi yang muncul bisa jadi peluang itu bagaikan mimpi di siang bolong.

Sebagai isu paling baru, pemerintahan saat ini memang sudah mengambil beberapa kebijakan yang dimulai dengan paket kebijakan ekonomi jilid I hingga jilid XVI yang tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan berbagai macam hambatan perekonomian hingga menjadi suplemen kebijakan untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi serta ke- stabilan makro ekonomi. Meski demikian, hingga paket kebijakan sampai pada jilid XVI, tetap saja perekonomian cen- derung bergerak stagnan. Ini tidak jauh berbeda dengan munculnya serangkaian kebijakan reformasi ekonomi yang diproduksi sejak 10 tahun lalu yang boleh dikatakan gagal dijalankan. Proyek revitalisasi pertanian, penguatan sektor riil, pemapanan sektor keuangan, perbaikan iklim investasi, regulasi pembebasan lahan, pembangunan infrastruktur, peningkatan pasokan energi, dan lain-lain hampir seluruhnya macet di lapangan. Ditambah lagi dengan bauran kebijakan dengan pemerintah daerah yang tidak sinkron. Belum ada satupun pemerintah daerah yang menyusun kebijakan lanjutan sebagai respon terhadap sejumlah paket kebijakan ekonomi tersebut. Dengan fakta yang sedemikian rupa penulis mengamini pandangan Ahmad Erani Yustika, seorang ekonomi Indef yang ditulis di berbagai media masa yang masih sangat relevan hingga saat ini. Menurut Erani, paling tidak ada tiga masalah krusial yang harus terus menerus menjadi perhatian pemerintah.
Pertama, Gerbong perekonomian nasional yang semula bertumpu kepada sektor industri (manufaktur), dalam 5 tahun terakhir justru menunjukkan kinerja yang terus menurun tren pertumbuhan maupun kontribusinya terhadap PDB. Pada tahun 2012, kontribusi sektor industri terhadap PDB masih di kisaran 24%, namun pada 2016 melorot tajam menjadi 20%. Subsektor industri, seperti tekstil, alas kaki, kulit, elektronika, kayu olahan, dan lain-lain terus melalui lereng pertumbuhan yang menurun sehingga mengganggu kekuatan penetrasi ekspornya. Sebagai dampak dari gejala deindustrialisasi ini telah mengakibatkan efek domino masalah baik domestik (penurunan kesempatan kerja), maupun kesempatan untuk bersaing di pasar global. Jika problem ini tidak segera diatasi, akan semakin menyulitkan Indonesia di pentas persaingan regional.
Kedua, konektivitas dan daya dukung ekonomi domestik kenyataannya masih rawan akibat tidak ada kebijakan yang terpadu untuk menciptakan daya saing ekonomi. Memang pemerintah pusat telah berupaya keras untuk membangun infrastruktur yang sudah sangat lama tertinggal secara besar- besaran, serta berbagai paket kebijakan yang disebut di atas, namun tidak diimbangi dengan kebijakan yang sama oleh pemerintah daerah. Pasar ekonomi domestik masih terpecah-pecah (fragmented), yang sebagian disebabkan oleh ketersediaan infrastruktur yang tidak mema- dai karena lambannya pemerintah daerah merespon dan mensinergikan kebijakan pembangunan infrastruktur pemerintah pusat. Pergerakan barang/jasa antar daerah tidak bisa mulus karena prasarana jalan dan pelabuhan yang tidak mendukung. Realitas ini tidak hanya mengganggu proses produksi, tetapi yang lebih penting juga menyebabkan masalah distribusi. Ditambah dengan persoalan kelangkaan listrik, energi yang kian mahal, pungutan liar, dan aneka masalah lain menyebabkan ekonomi nasional dijangkiti penyakit ekonomi biaya tinggi. Seluruh kondisi tersebut hingga kini masih memberatkan produk/jasa Indonesia untuk bersaing di pasar Asean.
Ketiga, iklim investasi di Indonesia tidak kalah mengenaskan. Di tengah lajunya kemajuan negara tetangga ASEAN dalam hal kelayakan berusaha, Indonesia masih berjalan terseok-seok. Beberapa aspek penyokong lancarnya investasi seperti pemerintahan yang bersih dan efisien, kedaulatan hukum, infrastruktur yang bagus, perizinan yang sederhana dan murah, pembebasan lahan yang cepat dan pasti, dan jaminan hak kepemilikan belum mengalami per- baikan yang berarti. Jaminan hak kepemilikan di Indonesia masih yang terburuk di Asia, perizinan masih mahal dan lama (di Asean hanya lebih bagus ketimbang Laos dan Filipina), korupsi terburuk di ASEAN, dan pembebasan lahan menjadi ganjalan serius bagi investor untuk menanamkan modalnya. Serangkaian masalah iklim investasi itu menyebabkan potensi ekonomi Indonesia yang luar biasa besar menjadi hilang begitu saja karena tertekan dengan soal-soal tersebut. Pemerintah memang sudah berjuang untuk mengatasinya, tapi hasilnya masih minim sampai hari ini.Untuk Pulau Sumatera, kajian Growth Diagnostic, Strategi Pertumbuhan Untuk Mendukung Reformasi Struktural Di Indonesia yang dilakukan oleh Bank Indonesia, 2017 mengungkap kendala-kendala lancarnya kehadiran investasi. Setali tiga uang, ragam kendala ini tidak jauh berbeda dengan yang disampaikan sebelumnya. Kurangnya supply listrik, kompetensi tenaga kerja yang tidak kunjung membaik, keterbatasan infrastruktur (darat, laut udara) serta lemahnya diversifikasi produk (padi, sawit, karet) adalah bibit penyakit kronis yang sepertinya belum mau bergerak menjauh. Berbagai kendala tersebut masih mencerminkan masalah klasik yang sudah lama sekali ada dalam struktur iklim investasi.

Meskipun demikian, kajian tersebut juga memberikan ragam solusi yang semestinya disikapi oleh pihak-pihak terkait baik dari pihak pemerintah sendiri maupun dari kalangan swasta pengusaha serta tentu saja sinergi positif antara kedua stakeholder ini. Pertama, untuk menjamin ketersediaan listrik, direkomendasikan agar ijin penggunaan lahan untuk membangun energi listrik dipermudah serta mengutamakan pembangunan pembangkit listrik di dekat sumber energy. Selanjutnya pemerintah perlu memikirkan skema insentif yang menguntungkan terhadapinvestasi kelistrikan swasta. Kedua, dalam rangka mendorong kompetensi tenaga kerja, pemerintah perlu menyediakan sekolah gratis hingga perguruan tinggi. Selanjutnya perguruan tinggi harus membangun si- nergi yang kuat dengan dunia usaha serta dibarengi upgrading kompetensi tenaga pengajar secara terus menerus. Secara khusus, perlu didirikan sekolah khusus keterampilan. Ketiga, pemerintah harus mendorong pembangunan infrastruktur pendukung baik berupa pelabuhan untuk Sumut, Kepri dan Riau, rel kereta api di Sumbar dan Sumsel serta jalan di Sumut dan Lampung dan bandara di Sumsel. Keempat, menggalakkan diversifikasi produk dengan jalan mempercepat pembangunan KEK dan KI dengan memastikan progres percepatan pembebasan lahan. Selanjutnya pelabuhan khusus ekspor harus segera terealisasi dengan mempermudah perijinan bagi investor yang berorientasi transfer tehnologi dan nilai tambah. Sebagai pelengkap, pemerintah perlu melakukan kajian dalam rangka memetakan blok dan zona industri serta fasilitas pelengkap.

Awan Mendung di Langit Tanjungbalai

Dalam konteks otonomi daerah, berbagai persoalan skala nasional yang dipaparkan di atas secara langsung atau tidak telah memengaruhi dengan cara-cara yang mengganggu. Oleh karena itu, aspek penguatan ekonomi domestik berorientasi regional merupakan pekerjaan rumah yang genting.

Sebagai satu Kota dengan posisi strategis di tengah kebijakan masyarakat ekonomi ASEAN, Kota Tajungbalai harusnya mendapatkan banyak keuntu- ngan. Meski demikian alangkah baiknya jika sedikit dikupas potensi kemampuan Kota Tanjungbalai dalam menggapai keuntungan tersebut.

Beberapa data ekonomi Kota Tanjungbalai se- sungguhnya masih menunjukkan sinar kilau terang bagaikan sinar matahari pagi di hari yang cerah. Pertumbuhan ekonomi Kota Tanjungbalai beberapa tahun terakhir kerap menonjol di atas pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara. Memang, pertumbuhan ekonomi terus mengalami perlambatan mulai tahun 2012 hingga tahun 2015 yaitu sebesar 6,22 % tahun 2012, menjadi 5,94 % tahun 2013 menjadi 5,78 % tahun 2014 dan 5,58 % pada tahun 2015, namun angka ini tetap berada di atas angka rata-rata laju pertumbuhan Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2014 dan 2015 yaitu sebesar 5,23 % dan 5,10 %, dimana sebelumnya selalu berada di bawah rata-rata Provinsi. Angka pertumbuhan ekonomi ini baru berhasil kembali rebound pada tahun 2016 ke angka 5,76 %. Kekuatan pertumbuhan ekonomi ini menjadi penopang utama optimisme kinerja ekonomi Kota Tanjungbalai dari tahun ke tahun.

Lapangan usaha yang menyumbang peranan terbesar terhadap perekonomian Tanjungbalai adalah di kategori perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor yaitu sebesar 21,46 persen. Disusul industri pengolahan, pertanian, kehutanan, dan perikanan dan konstruksi yang masing-masing menyumbang peranan sebesar 18,44 persen, 17,22 persen, dan 15,67 persen. Meskipun terus mengalami periode pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan, situasi tersebut mengalami keadaan yang sangat berbeda dengan data pengangguran Kota Tanjungbalai. Menurut data BPS Tanjungbalai, pada tahun 2010 tingkat pengangguran terbuka Kota Tanjungbalai berada di angka 10,25 persen. Angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) mengindikasikan besarnya persentase angkatan kerja yang termasuk dalam pengangguran. Angka ini cenderung mengalami tren penaikan setiap tahun hingga tahun 2012, yakni 10,88 persen di tahun 2011 dan 14,75 persen di tahun 2012. Kemudian angka ini mengalami tren penurunan hingga tahun 2014 yakni ke angka 8,98 persen di tahun 2013 dan 8,05 persen di tahun 2014. Kemudian di tahun 2015 angka TPT ini kembali mengalami kenaikan ke angka 10,06 persen. Angka ini selalu berada di atas angka TPT Provinsi Sumatera Utara, di mana pada 2 tahun data terakhir yang disajikan (2014 dan 2015), angka TPT Provinsi Sumatera Utara masing-masing sebesar 6,23% dan 6,71%.

Selanjutnya kemiskinan juga merupakan permasalahan utama yang dihadapi Kota Tanjungbalai. Pada tahun 2009 penduduk miskin di Kota Tanjungbalai mencapai titik tertinggi dengan jumlah 28.300 jiwa atau 17.1 persen. Di tahun-tahun selanjutnya angka kemiskinan tersebut memang terus mengalami penurunan, tetapi belum pernah di bawah dua digit. Pada tahun 2012 misalnya, persentase angka kemiskinan di Kota Tanjungbalai masih di angka 14,86 persen, kemudian mengalami tren penurunan hingga tahun 2014 yakni 14,85 persen di tahun 2013 dan 14,02 di tahun 2014. Namun angka ini kemudian mengalami fluktuasi di mana kembali naik di tahun 2015 ke angka 15,08 persen dan mengalami penurunan di tahun 2016 ke angka 14,49.

Angka-angka pengangguran dan kemiskinan ini benar-benar mencemaskan bagaikan awan gelap yang mengandung badai. Ini bisa merupakan cerminan belum berhasilnya berbagai kebijakan yang dijalankan pemerintah Kota Tanjungbalai memberikan kestabilan dalam menekan dan mengendalikan baik TPT maupun kemiskinan.

Agenda Kritis Untuk Menjemput Harapan

Paling tidak ada dua agenda penting mendesak untuk dilakukan oleh pemerintah Kota Tanjungbalai jika ingin mengambil berbagai keuntungan dalam pentas ASEAN.

Pertama, program-program yang disusun harus memiliki perspektif jangka panjang dan jangan sampai kehilangan fokus. Program dan kegiatan harus mampu secara terukur dijabarkan kaitannya dengan masalah utama pengangguran dan kemiskinan. Kebijakan serta kegiatan apa saja baik yang memergunakan dana pemerintah daerah di setiap organisasi perangkat daerah maupun di luar anggaran daerah (semisal dana CSR) harus terhubung langsung dengan kedua masalah tersebut. Persoalan kemiskinan misalnya tidak boleh hanya berhenti pada sekedar bantuan penyangga hidup kelompok masyarakat miskin yang mungkin diposkan di anggaran dinas sosial, tapi lebih dari itu harus mampu mengeluarkan si miskin dari statusnya (dengan melakukan kajian komprehensif tentang ragam penyebab orang menjadi miskin lalu kemudian membuat peta jalan penyelesaian masalah). Dalam konteks AFTA (MEA), ini tidak bisa ditawar lagi. Karena jika tidak, kita akan semakin kesulitan karena tidak pernah lepas dari dipusingkan dengan masalah domestik yang mengganggu.

Kedua, agenda berikutnya adalah tekad kuat mewujudkan efisiensi dan daya saing ekonomi melalui perbaikan infrastruktur, meniadakan ekonomi biaya tinggi, efisiensi perizinan investasi, dan kepastian regulasi. Ini pekerjaan rumah yang sudah lama, bahkan menjadi klise, tapi tak kunjung dituntaskan. Pemerintah harus tegas menekan pungutan liar, efisiensi izin usaha, dan kepastian regulasi karena tiga aspek itu tidak boleh dikompromikan untuk daya saing ekonomi yang kuat.

Memang banyak lagi hal lain yang penting untuk dilakukan dalam rangka mengambil keuntu- ngan pada persaingan MEA. Namun paling tidak dengan memprioritaskan kedua hal ini, pemerintah setelah lepas dari persoalan utama domestik sehingga bisa lebih leluasa menciptakan kreativitas kebijakan untuk mengisi celah-celah lainnya. Akhirnya, terlepas dari soal perjanjian pasar MEA yang sudah telanjur diratifikasi oleh Indonesia, sebetulnya separuh persoalan ekonomi nasional adalah kualitas implementasi kebijakan ekonomi (domestik) sendiri.

Hal inilah yang membuat daya saing perekonomian tidak beranjak bagus, sementara negara-negara lain telah berlari kencang. Oleh karena itu, aspek penguatan ekonomi domestik merupakan pekerjaan rumah yang genting.

Agar tidak semakin ketinggalan dan mengalami periode yang semakin memburuk, pemerintah Kota Tanjungbalai tidak boleh melepaskan pedal gas kebijakannya. Pemerintah Kota Tanjungbalai harus lebih serius dengan terus melakukan berbagai upaya sistematis guna menekan angka pengangguran dan kemiskian tersebut agar Kota Tanjungbalai bisa menjadi salah satu pintu gerbang persaingan MEA yang mendapatkan keuntungan untuk kesejahteraan rakyatnya dan agar awan mendung ekonomi tidak terus berada di atas langit Tanjungbalai.■

Diterbitkan pada Buletin Perencanaan Pembangunan Bappeda Kota Tanjungbalai
Volume 3, Bulan Desember 2017

 

]]>
https://bapperida.tanjungbalaikota.go.id/2018/03/15/tanjungbalai-di-kancah-masyarakat-ekonomi-asean/feed/ 0